Sabtu, 09 Oktober 2010

Peran Guru dalam Filsafat Eksistensialisme

PERAN GURU DALAM
FILSAFAT EKSISTENSIALIS

Filosofi (eksistensialisme) ini berasal dari Eropa, muncul setelah Perang Dunia I. Filosofi eksistensialis dalam bebarapa aspek adalah usaha untuk menolak tradisional dan menyebut filosofi kontemporer.
Pengetahuan yang mendasar dari filsafat ini adalah tanggungjawab manusia kepada dirinya sendiri guna membangun target dan kebebasan menentukan keputusan dari kelompok norma-norma. Pemikiran umumnya aliran ini digambarkan sebagai manusia yang bertindak bebas guna memilih dan memutuskan apa yang berarti bagi dirinya.
Hasil kebebasan pilihan manusia menentukan akan menjadi apa manusia itu. Oleh karena itu manusia memutuskan esensinya pada dirinya, yang terus berlanjut menjadikan hasil atas tindakannya. Manusia bertanggungjawab atas keadaan dirinya. Masing-masing tindakan mendefinisikan alam manusia yang berada pada pemikiran mereka.
Kebenaran ditentukan pada masing-masing orang dalam istilah apa yang berarti bagi dirinya. Tidak ada cara yang membedakan kebenaran dengan kesalahan dengan menggunakan kriteria objektif. Untuk mendatangkan kebenaran, tiap manusia harus tidak memaksakan kepada manusia yang lainnya.
Sebagai suatu dasar berpikir mengenai filosofi pada pemikiran diri sendiri (sistem kepercayaan). Bagaimana kita mendapatkan kepercayaan yang kita pegang sekarang? Darimana kita mendapatkan kepercayaan? Bagaimana kepercayaan-kepercayaan berhubungan dengan kebijakan dan tingkah laku? Jika seorang manusia memiliki hubungan antara dua hal atau satu hal dan terdapat sebuah karakteristik didalamnya, dia akan berpegang pada kepercayaannya.
            Kita memegang kepercayaan pada tingkat yang bermacam-macam. Dalam kepercayaan orang-orang dulu, Bem membedakan kepercayaan Zero-order dan kepercayaan First order. Kepercayaan zero order adalah beberapa hal yang kita ambil untuk menjamin hal-hal yang tidak kita ketahui. Kepercayaan one zero order adalah keyakinan dalam keberadaan pengalaman kita, yang diungkapkan dengan berbagai cara.
 Bila aku lihat dan aku akan mempercayainya”. Kalimat tersebut adalah yang paling sering kita ucapkan. Kita biasanya menaruh perhatian pada kepercayaan first order karena kita dapat membayangkan jalan lain bagi kepercayaan tingkat ini. Kita bisa menerima bahwa air membanjiri lereng bukit, tetapi dapat dibayangkan bahwa itu mungkin menurut pikiran melewati atas bukit yang akhirnya jalan keluarnya adalah sesuatu yang bisa disadari.
            Dalam keterkaitan antara paham eksistensialis dengan peran guru dan kepercayaan peran serta posisi guru pada eksistensialisme itu akan dipaparkan lebih lanjut.
Makalah ini akan memaparkan peran guru dalam kepercayaan-kepercayaan kita tentang :
1.    Manusia
2.    Warga orang dewasa yang belajar
3.    Tujuan untuk orang dewasa
4.    Proses belajar
5.    Isi pelajaran
6.    Evaluasi

Aliran utama filsafat Barat abad keduapuluh yang banyak diilhami oleh Heidegger dan didasarkan pada kepercayaan bahwa penemuan makna eksistensi manusia merupakan peran utama filsafat. Ini secara khas diselesaikan dengan menggunakan penalaran analogis, yang didasarkan pada pembedaan fundamental antara benda-benda yang eksis dan yang-ada dan/atau yang-tiada.

1. Kepercayaan tentang Manusia
            Isaiah Berlin, sejarawan ide dan filsuf Inggris Keturunan Rusia, dikenal “tamu dari masa depan”. Sebutan tersebut diperoleh oleh A. Akhmatova, penyair Rusia keduanya mempunyai ikatan batin yang kuat dengan sastra tanah Rusia. Pembicaraan keduanya semakin menyalakan gairah yang terus berkobar sepanjang hidupnya untuk membela kebebasan individu yang menjadi inti pandangan liberal yang dianutnya, sekaligus menelusuri pemikiran yang mendasari totalitarianisme di Rusia.
            Dari penemuan Berlin, diketahui bahwa totalitarianisme berasal dari hasrat manusia untuk pembebasan, namun dengan bersandarkan pada keyakinan akan kebenaran absolut dan universal. Yang lebih ironis, kecenderungan absolutistik terasa pada pemikiran Pencerahan, yang merupakan sandaran pandangan liberal yang dianut olehnya. Mulai dari saat itu tumbuh kritikan atau klaim tentang universal yang absolut pada pemikiran Pencerahan yang berkembang di kalangan intelektual Perancis abad 18 dengan mengambil inspirasi dari gagasan kontra –Pencerahan, dari pemikiran Italia abad 18, Giambastita Vico, dan dua tokoh pelopor romantisisme Jerman abad 18, Johann George Harman dan Johan Gottfried Herder. Namun, meskipun memberikan kritikan terhadap pencerahan dan pelucutan universal pencerahan dia tetap seorang liberal.
            Posisi Liberal Berlin menarik untuk diamati pada konteks dunia pascamodern saat ini. Saat orang menyudutkan klaim universal modernisme, dan menyambut pluralisme pascamodern yang ditandai dengan penegasan politik identitas berdasar budaya lokal, etnisitas, ras dan agama, pembelaan terhadap kebebasan individu seakan tidak diperhatikan. Sesungguhnya, politik identitas mengandung represinya sendiri, yang menjadi korban adalah kebebasan individu. Politik identitas yang menempatkan budaya lokal, etnisitas, ras dan agama sebagai unit terkecil yang berguna melawan universalisme pencerahan. Tidak selamanya budaya lokal, etnisitas, ras dan agama mengandung unsur mencerahkan. Beberapa unsur pra-pencerahan yang dapat membelenggu
            Politik identitas berdasarkan agama dapat muncul dalam ekspresinya yang fundamentalistis. Fundamentalis agama menolak Universalisme Pencerahan untuk menawarkan universalismenya sendiri. Kaum fundamentalis melarang kebebasan individu, termasuk kebebasan menafsirkan agama, karena agama adalah paket kebenaran tunggal yang melampaui ruang sehingga perlu ditafsirkan.

·        Landak Pencerahan, Rubah Romantisisme
Tafsiran yang timbul, yaitu rubah dengan segala kecerdikannya yang beracam-macam, bisa dikalahkan oleh landak yang hanya satu pertahanan diri. menurut Berlin, pemikir jenis “landak”  menghubungkan segala sesuatu dalam satu pandangan tunggal, satu prinsip universal yang menata kenyataan dalam satu sistem yang koheren sehinga heterogenitas kenyataan bukan sesuatu yang tidak terkendali. Namun dapat dimengerti maknanya secara teletologis (mengarah pada satu tujuan). Sementara pemikir jenis “Rubah”, tidak terpaku pada satu telos (tujuan) karena kepercayaan pluralitas sebagai tujuan, satu dengan lainnya tidak berkaitan atau bahkan bertentangan.
            Plato, Pascal, Dante, Hegel, Marx, Dostoevsky dalam tingkatan tertentu masuk dalam jenis landak, sedangkan Herocatus, Aristotles, Erasmus, Goethe, Pushkin, Balzac dan Joyoe adalah jenis rubah. Tolstoy merupakan sesosok yang strategis, dilihat dari kepekaannya dalam menangkap keragaman dan kekayaan faset-faset kenyataan. tolstoy adalah jenis rubah yang pluralis. Namun dia menganggap dirinya sebagai jenis landak sehingga selalu berusaha mencari prinsip utama dalam menangkap dan menjelaskan kenyataan. dari analisis Tolstoy, Berlin membahas Pencerahan dan Kontra-Pencerahan. menurutnya, para pemikir Pencerahan adalah jenis landk sedangkan kaum romantisisme kontra-Pencerahan adalah jenis rubah.
            Kaum pemikir Pencerahan Perancis abad 18 percaya bahwa rasionalitas adalah kebenaran yang berlaku universal. Adanya keyakinan bahwa manusia pada dasarnya sama di semua tempat dan waktu, tujuan kemanusiaan dan cara yang efektif untuk mencapainya pada prinsipnya dapat ditemukan, bahwa sukses ilmu alam, terutama metode Newtonian, dapat diterapkan pada bidang moral, sosial, politik dan ekonomi sehingga dapat menghapus penderitaan manusia.
            Menurut Berlin, pemikiran pencerahan yang percaya pada rasionalitas yang universal dan The Idea of Progress sebenarnya hanya mengungkapkan kepercayaan terhadap kebenaran tunggal sebagai sendi utama peradaban Barat sejak zaman Yunani dan Yahudi Kristen. Isi kebenaran tunggal dapat berbeda-beda tapi polanya sama, yaitu Monisme. Tiga sendi kepercayaan kaum Monis, yaitu : mereka percaya bahwa semua pertanyaan yang benar pasti ada jawabannya, bahwa kebenaran pasti diketahui dan ditemukan dengan cara, metode atau teknik yang bisa dipelajari dan diajarkan sehingga direalisasikan di muka bumi, kebenaran akan saling kompatibel satu sama lain dan membentuk satu harmoni dalam keseluruhan yang sempurna.
            Dalam essay Berlin, The Originality of Machiavelli, menganggap penilaian Machiavelli orisinal karena sudah menunjukkan kemustahilan penggabungan dua moralitas, tujuan hidup. Sedangkan gagasan pluralisme kultural dari Vico, menurut Berlin, yang secara diametral menghantam sendi-sendi dan keyakianan universalisme pemikiran Barat, termasuk Pencerahan. menurut Johann Georg Hamann, nilai bukanlah hal yang ditemukan dri hukum nasional alam semesta melainkan diciptakan. oleh karena itu, klaim universalistik dan objektivistik menjadi tidak bermakna karena kenaikan dan kekhasannya.
            Menurut Johann Gottfried Herder, bahwa individu hanya bisa merealisasikan diri secara penuh saat menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas tertentu, tertanam dalam kultur tertentu dengan tradisi, bahasa dan pandangan dunioa yang khas. penolakan romantisisme terhadap pencerahan Perancis terkait erat dengan konteks sosial politik. abad 18 adalah masa ketika Perancis berada dalam superior politik, militer dan ekonomi. Saat itu, pemikir Pencerahan, menganggap kebenaran pencerahan berlaku universal. Saat itu, Jerman masih berada dalam bayang-bayang Perancis. Romantisisme Jerman menawarkan kemajemukan ukuran kebenaran dan kemajuan beberapa ekspresii perlawanan terhadap Pencerahan Perancis yang optimistis dengan kliam universalismenya. perlu adanya penekanan bahwa romantisisme adalah kebenaran dan nilai dari sesuatu yang diciptakan sendiri dan karena itu selalu bersifat plural dalam perkembangan sejarahnya. nasionalisme, eksistensialisme dan ekspresionisme merupakan manifestasi dari romantisisme. namun, bukan berarti fasisme dan anarkisme tidak bisa dilepaskan dari romantisisme.
            Dalam ceramahnya yang bertajuk “Two Concept of Liberty”, Berlin mengontraskan dua pandangan tentang kebebasan, yaitu : kebebasan positif (bebas untuk) dan kebebasan negatif (bebas dari). Kebebasan positif adalah kebebasan sebagai realisasi diri sebagai kontrol dan penguasaan diri oleh nasionalitas. Sedangkan kebeebasan negatif, yaitu kebebasan dalam beberapa situasi tidak adanya tekanan, hambatan, paksaan atau kekangan dari luar diri kita. Asumsi dari kebebasan positif adalah adanaya pembagian diri kedalam dua bagian, yaitu ; bagian diri yang rasional, yang merupakan aspek diri yang sejati yang lebih tinggi derajatnya, dan bagian diri yang tidak rasional, yaitu ; diri empiris yang dikendalikan oleh emosi, prasangka, dan nafsu. Pluaralisme Berlin adalah pluralisme dengan tragicsense of life karena dalam pluralismenya, Keharusan memilih tetap menjadi niscaya, tapi pada saat yang sama akan menyadari ada sesuatu yang hilang dan tidak tergantikan. menurutnya, kebebasan penting bukan karena ia sebagai sarana bagi tujuan lain dari luar dirinya. kebebasan bermakna bukan karena berlandaskan kepastian absolut. Namun, bernilai karena ia adalah tujuan pada dirinya sendiri, sebagaimana hidup bernilai karena ia menjadi tujuan dari dirinya sendiri.  

2. Kepercayaan terhadap Warga Orang Dewasa yang Belajar
Pada pelatihan yang dikembangkan dengan pendekatan partisipatif, pengendalian kondisi dan suasana pelatihan merupakan hal yang tidak dapat dianggap ringan perannya. Karena pelatihan juga menekankan pada proses, maka kondisi yang terbangun selama pelatihan akan mempengaruhi pencapaian output darinya. Dengan kata lain menjaga dinamika kelas atau peserta adalah penting.
Dinamika kelas harus sejak dini ‘direkayasa’ sedemikian rupa agar keterlibatan seluruh warga pelatihan tetap tinggi. Salah satu masalah yang sering timbul dalam pelatihan partisipatif adalah tidak terciptanya suasana dan iklim pelatihan yang baik, karena belum menyatunya peserta dengan pendekatan pelatihan yang ada.
Sebagai contoh, guru di dalam kelas diharapkan untuk mengajar dan murid diharapkan untuk belajar. Suatu ide bahwa murid dapat mengajar, guru dapat diajar adalah tidak biasa. Tetapi apabila murid dapat diharapkan murid lain dan guru, ini tidak biasa dan memerlukan perubahan dalam hal peranan, norma kelompok, dan kepemimpinan dalam warga pelatihan. Perubahan semacam itu akan merupakan ketidak-nyamanan, kekaburan dan konflik. Hal itu mengurangi kemampuan untuk memecahkan masalah secara efektif.
Pada pelatihan yang berdurasi relatif panjang, atau dengan pendekatan yang monoton dan kurang melibatkan peserta, kegairahan peserta dalam mengikuti setiap materi menjadi menurun. Ini merupakan bagian yang berat bagi fasilitator. Untuk itu rangkaian materi dalam pelatihan harus diselingi dengan kegiatan "pemecah kebekuan" atau "ice breaker" dan pembangkit daya dan dinamika atau "energiser".
Secara umum pembentukan suasana ditujukan antara lain untuk :
  • memecahkan kebekuan suasana pelatihan,
  • merangsang minat dan perhatian peserta pelatihan,
  • menghantarkan suatu pokok bahasan tertentu yang menjadi materi utama kegiatan yang bersangkutan,
  • menciptakan kondisi yang berimbang antara pelatih dan peserta, serta antar peserta yang ‘berbeda’ level,
Tidak ada teori khusus yang dikembangkan mengenai "pemecah kebekuan" ini. Pada dasarnya keterampilan ini dikembangkan lewat pengembangan kepekaan yang tinggi seorang fasilitator dalam memproses pelatihan. Orang awam sering bilang, jam terbanglah yang menentukannya, sebagaimana filosofi pelatihan yang mengembangkannya, yakni pelatihan berdasar pengalaman (pelatihan orang dewasa). Kuncinya adalah keberanian bereksperimen.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  1. Isi: kemampuan fasilitator yang meramu dalam menentukan keberhasilannya. Dengan isi permainan sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda.
  2. Waktu: Mempertimbangkan dengan waktu untuk materi utama, kecuali jika dimaksudkan untuk menghantar kepekaan seorang fasilitator yang menentukannya.
  3. Peserta: Mengingat waktu dan isi, ditambah lagi dengan kondisi lokasi/tempat, dan melibatkan semua orang. yang perlu diperhatikan yaitu kepekaan memilih peserta
·         proses: pelatihan orang dewasa sebagai kegiatan yang indah untuk dikaji. sehingga perlu diolah sehingga enak untuk disajikan dan bagian yang memperkaya keseluruhan tubuh pelatihan. Pada beberapa kegiatan, ice breaker disajikan dengan menggunakan alat dan bahan pembantu. Bila harus demikian, pandai-pandailah memilih alat bantu yang sesuai dengan kondisi peserta. Hindari pemakaian alat atau bahan yang susah didapat di lokasi. Hal ini penting, sehingga peserta dapat mereplikasikannya selepas pelatihan dengan bahan yang ada. Pemakaian bahan yang mahal juga akan menimbulkan dampak kurang baik, karena dapat mengundang pemikiran peserta mengenai "kemewahan" suatu proses pelatihan. Prinsip ini sama dengan prinsip pemilihan alat bantu belajar dalam pelatihan secara umum. Memperbanyak alat-alat bantu visual akan memudahkan memproses serta diingat oleh peserta pelatihan.
      Kaidah umum, adalah nilai umum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini menyangkut nilai sosial, agama, budaya (tata krama), dan bahasa, termasuk bahasa tubuh. Hal-hal tersebut juga berlaku dalam penyajian ice breaker. Misalnya, ice breaker mana yang tepat digunakan untuk pelatihan pejabat, petani, orang tua, perempuan dan lain-lain. Meskipun pada dasarnya setiap bahan ice breaker bisa diproses untuk siapa saja, namun ada baiknya anda sebagai fasilitator memperhatikan hal ini, bila anda belum terampil meramunya. Ini lebih baik, daripada memaksakan, dan akhirnya merusak suasana pelatihan secara keseluruhan.
3. Kepercayaan Tentang Proses Belajar
Mempelajari filsafat bagi pendidikan orang dewasa sangat penting dalam rangka untuk mempertimbangkan dan menganalisis tentang kapan, apa, mengapa, dan program apa yang akan di berikan pada pendidikan orang dewasa agar dapat memberikan kombinasi terhadap pemecahan masalah orang dewasa dan masyarakat. Pembahasan filsafat di sini di batasi khusus pada sistem keyakinan (pandangan dunia) terhadap pelajar/peserta didik orang dewasa untuk memberikan dasar atau pelengkap pada pendidikan orang dewasa. Dalam memberikan pandangan seseorang terkait dengan nilai, sikap, dan keyakinan yang dimilikinya. Sebab, nilai membentuk penerimaan atau penolakan terhadap yang baik atau buruk. Sikap membentuk suka atau tidak suka. Keyakinan (pandangan) memberikan pertimbangan untuk menilai kebenaran. Keyakinan terhadap sesuatu dapat benar, suka atau tidak suka. Salah satu keyakinan mengenai filsafat orang dewasa yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme yaitu pandangan filsafat modern dan berhubungan dengan tujuan dan cara adanya manusia. Pada intinya aliran ini memberikan penekanan individualistis dan kebebasan dimana manusia itu yang menentukan dirinya, tujuan hidupnya, aktifitasnya, dan bebas dari ikatan kelompok. Kebenaran sebagai pilihan eksistansial dan estetika pembangkangan terhadap aturan-aturan umum. Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau konsep belajar mengemukakan bahwa belajar bagi orang dewasa adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, “ Learning is experiencing by exploration and discovery”(Reg Revans, 1998). Siklus belajar orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu dengan kuriositas tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan testing di lapangan dan terakhir refleksi sebuah pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul dalam diri (Charles Handy,1999). Penulis buku terkenal ini mendefinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya meliputi pemahaman, aplikasi dari metodeologi baru, keahlian, sikap dan nilai. Belajar bagi orang dewasa ternyata memiliki berbagai dimensi. Oleh karena itu menjadikan pendidikan (education) sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang berkemampuan rata-rata atau minus (Alvin Toffler).

Aplikasi Belajar
            Merujuk pada sekian pandangan tentang belajar bagi orang dewasa, maka yang perlu dilakukan adalah menjadikannya sebagai konsep hidup personal yang implementatif berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Konsep tersebut harus diformulasikan kedalam pemahaman khusus yang dirasakan bekerja mengubah hidup dan situasi. Guru adalah situasi konkrit yang dialami dengan materinya berupa tantangan. Inilah makna esensial dari petuah bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib.

Proses Belajar
            Salah satu pertanda inti dari orang dewasa adalah pemahamannya terhadap bagaimana dunia konkritnya bekerja. Dengan memehami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya. Disamping itu, pemahaman tersebut akan menyalurkan energi positif ketika proses sedang dijalani. Disinilah yang membedakan apakah kita merasakan tantangan sebagai proses untuk dinikmati atau proses yang dirasakan dengan kepedihan.

4. Kepercayaan Tentang Tujuan Orang Dewasa
Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu pendidikan yaitu manusia atau sekelompok kecil manusia dalam fenomena pendidikan.
1)    Pendidikan dalam praktek memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek dilapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan –alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, social dan moral.
2)    Landasan sosial dan Individual pendidikan
Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial dan cultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif terbatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan istri, antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawannya yang baik dan lengkap. Pada tingkat skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesame (subyek) yang masing-masing bernilai setara.
3)    Teori pendidikan memadu jalinan antara ilmu dan seni
Adanya aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah menginsyaratkan  bahwa manusia dalam fenomena (situasi) pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia sebagai nilai.

5. Kepercayaan Kita Tentang isi Pembelajaran
            Seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa dasar berpikir mengenai filosofi adalah pemikiran pada diri sendiri (sistem kepercayaan). Bagaimana kita mendapatkan kepercayaan yang kita pegang sekarang? Kepercayaan itu sendiri dasarnya berasal dari dua sumber, yakni:
  1. Dari pengalaman kita
  2. Dari kewenangan

Begitu juga paham eksistensi yang menekanakan peran guru dalam kepercayaan kita tentang isi pembelajaran yang pada intinya berisi pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang seharusnya dipelajari? Apa sumber yang terkandung didalamnya? Apa yang kita percayai mengenai peran makna dalam pendidikan orang dewasa?
Kaum eksistensialis mempercayai bahwa manusia sendiri bertanggungjawab pada sistem nilainya. Tetapi terdapat dimensi pertanggungjawaban. Manusia bertanggungjawab pada tindakannya sendiri. Tindakan-tindakan ini berefek pada manusia yang lainnya, dan juga sebuah nilai pilihan termasuk pada pertanggungjawaban untuk tindakan-tindakan yang lain. Teori-teori belajar menyarankan agar belajar efektif dibutuhkan keaktifan. Tidaklah cukup siswa hanya mendengarkan, melihat atau membaca saja, siswa harus mengerjakan sesuatu dengan materi belajar, mereka perlu mendemonstrasikan bahwa mereka tahu atau membutuhkan modifikasi pengetahuan sebelumnya diakomodasikan dengan informasi baru. Atau mereka perlu menganalisa informasi baru.
Umpan balik adalah komponen penting dalam interaksi. Umpan balik menyediakan pengetahuan tentang hasil dari siswa tentang indikasi apakah sudah belajar dengan benar, atau berupa suatu tanggapan dari orang lain yang mengindikasikan bagaimana ia belajar, apakah sudah membaca atau belum.
Peran guru dalam hal ini dapat digambarkan ketika guru menyajikan sejumlah teori sosial terhadap siswa-siswanya. Dalam hal ini isi pelajaran adalah sosiologi. Para siswa akan merasa kebingungan jika sajian-sajian teori itu tidak tepat sasaran dan tidak sesuai dengan situasi sosial lingkungan sekitarnya. Mereka harus berpikir dua kali untuk mengasosiasikan teori dengan kenyataan hidupnya dan selanjutnya mencerna teori sajian guru. Keterlambatan dalam menginternalisasi materi pelajaran pun terjadi. Konsep siswa baru pada tahap asosiasi, tetapi waktu pelajarannya terlanjur selesai. Siswa enggan melanjutkan hal itu lagi karena telah  terjaring limit waktu dan harus beralih ke mata pelajaran yang lain.
Sekurang-kurangnya ada tiga masalah pokok yang melatarbelakangi keengganan siswa untuk mempelajari sosiologi, dan tidak terlepas dari isi pelajaran itu sendiri. Pertama, masalah teknik pembelajaran yang tidak membutuhkan motivasi siswa. Seharusnya proses pembelajaran itu dapat memacu keingintahuan siswa untuk membedah masalah-masalah seputar lingkungan sosialnya sekaligus dapat membentuk opini pribadi terhadap masalah-masalah tersebut. Disini, mereka bukan lagi dianggap kertas kosong atau pribadi yang menerima secara pasif, pribadi yang tidak mengetahui apa-apa, melainkan pribadi yang telah berinteraksi dengan lingkungan dan berhak untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Kedua, eksistensi guru bukan sebagai fasilitator yang membelajarkan siswa, melainkan pribadi yang mengajar atau menggurui siswa. Kalau hal ini menjadi prioritas dengan pembelajaran, maka kesan negatif yang bisa mematikan kreatifitas siswa pun timbul. Peran aktif siswa dalam mengeksplorasi dan mengkonstruksi pengetahuannya sangat diutamakan. Guru hanya memfasilitasi siswa guna mengikuti pola-pola kognitif dan memperlihatkan konsep pengetahuannya itu dapat berlaku benar untuk setiap keadaan. Ketiga, penyampaian pesan pembelajaran dengan media yang kurang interaktif dan atraktif. Yang diharapkan dari siwa adalah menyenangi pelajaran, merasa membutuhkan ilmu itu serta dapat melaksanakan pesan pembelajaran. Siswa dapat menterjemahkan isi pesan itu kedalam ranah-ranah kognitif karena dari situlah sumber kompetensi baginya dan haluan evaluasi bagi guru siswa dapat memilih keahlian afektif dan psikomotorik yang bisa diukur.


6. Apa Kepercayaan Kita Tentang Evaluasi
            Filsafat, menurut para ahli sebagai cinta yang mendalam terhadap pengetahuan. Kebanyakan filosof memberikan pandangan yang berbeda tentang hal tersebut. Keyakinan memberikan pertimbangan untuk menilai kebenaran. Sistem filsafat dapat memberikan jawaban terhadap realitas pengetahuan dan nilai yaitu melalui suatu pandangan yang salah satu diantaranya adalah eksistensialisme yang  memberikan penekanan pada aspek individualitas dan kebebasan manusia yang mengukur  dan menentukan sendiri dirinya, tujuan hidupnya, aktifitasnya dan bebas dari ikatan.
            Kepercayaan tentang suatu evaluasi sangat penting, hal tersebut bertujuan untuk menilai atau mengukur yang pada akhirnya didapat suatu hasil kesimpulan. Peran guru dalam proses pendidikan sangat penting, hal tersebut disebabkan karena guru merupakan sentral ilmu. Namun keberadaan guru saat ini dalam kaitannya dengan peningkatan kemampuan siswa banyak memperoleh kritikan. Salah satu kritik yang dilontarkan yaitu alasan mengapa guru sulit melakukan perubahan. Pertama, guru sering tidak mengerti apa isi kurikulum baru ataupun perubahan yang diinginkan. Kedua, banyak guru meragukan perubahan atau pembaharuan yang ada. Ketiga, pendidikan guru yang statis dan yang terakhir ialah tugas guru dipahami sebagai konservatif.
            Agar adanya keselarasan dari apa yang telah dikemukakan diatas, perlu adanya kegiatan pengkoreksian atau pengevaluasian tentang apa, bagaimana yang benar mengenai posisi guru di dalam proses pendidikan. Pada pandangan eksistensialisme dimana adanya individualistik dan kebebasan lebih ditekankan. Namun dalam suatu proses pendidikan hal tersebut perlu dipertanyakan kembali mengingat guru tidak bisa berlaku sesuka dirinya sendiri, karena walau bagaimanapun ada aturan-aturan pendidikan yang mengikat atau mengatur posisi guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar