Selasa, 12 Oktober 2010

Teknik Delphi dalam Penelitian

TEKNIK DELPHI

Delphi adalah suatu proses kelompok yang digunakan untuk memperoleh tanggapan tertulis dari beberapa individu.  Ini  dimaksudkan untuk mengumpulkan pendapat dari sejumlah individu dalam rangka meningkatkan mutu pengambilan keputusan. Delphi tidak memerlukan pertemuan langsung (Face to face), bagaimanapun juga, ini bermanfaat untuk melibatkan para ahli, pengguna-pengguna, pengontrol sumber daya, atau pengurus yang tidak bisa datang bersama-sama. Delphi,  memperbolehkan orang tanpa menggunakan nama tetapi, mencegah dominasi oleh individu tertentu. Delphi dapat juga digunakan untuk mengumpulkan pendapat di mana orang saling bermusuhan satu sama lain, atau di mana gaya kepribadian individu akan merusak dalam suatu pertemuan itu.
Delphi adalah satu rangkaian kuesioner. Kuesioner pertama meminta individu untuk merespon terhadap suatu pertanyaan luas (Pertanyaan Delphi difokuskan pada masalah, tujuan, solusi, atau peramalan). Masing-Masing daftar pertanyaan itu dibangun atas tanggapan kepada daftar pertanyaan yang terdahulu.  Proses dihentikan manakala konsensus telah disetujui oleh para peserta ( Dalkey, 1967), atau manakala pertukaran informasi telah diperoleh.

BAGAIMANA DELPHI DIGUNAKAN?

Delphi telah digunakan dalam beberapa keadaan berbeda. Semula Delphi  digunakan sebagai suatu proses untuk peramalan teknologi (Helmer, 1967; Pyke and North, 1969). Sebagai contoh, Delphi digunakan untuk meramalkan dampak dari suatu kebijakan penggunaan lahan baru atas pertumbuhan populasi, polusi, pertanian, pajak, dan lain lain ( Kaufman dan Gustafson, 1973).
Bagaimanapun, aplikasinya sudah meluas di luar peramalan teknologi tersebut sehingga Delphi, seperti NGT (Nominal Group Technique), telah menjadi suatu alat perencanaan yang digunakan secara luas.  Sebagai contoh, Delphi telah digunakan untuk menyiagakan peserta ke tingkatan ilmiah yang lebih tinggi. Dalam cara ini, Delphi telah digunakan untuk mengevaluasi kelemahan dan kekuatan sistim informasi sehubungan dengan perencanaan pengembangan (Turoff, 1971).
Seperti NGT, Delphi dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi permasalahan (Wisconsin Governor’s Health Task Force, 1973), dengan skala prioritas, dan mengidentifikasi solusi masalah. Delphi juga dapat digunakan untuk memperjelas posisi dan menggambarkan perbedaan antar kelompok dengan acuan berbeda.
Dari contoh ini, dapat dilihat bahwa Delphi dapat diberlakukan bagi suatu cakupan luas dalam perencanaan program dan perhatian/kepentingan administratif.

KAPAN SEBAIKNYA DELPHI TIDAK DIGUNAKAN?

Ada tiga kondisi-kondisi kritis yang diperlukan untuk melengkapi sukses Delphi:
1) Waktu cukup.
2) Keterampilan peserta dalam komunikasi tertulis.
3) Motivasi peserta tinggi.

Delphi sebaiknya tidak digunakan ketika waktu terbatas. Kebanyakan studi Delphi mengambil lebih dari satu bulan untuk menerapkannya. Biasanya waktu yang diperlukan untuk suatu Delphi minimal adalah sekitar 45 hari. Delphi sebaiknya juga tidak digunakan pada kelompok yang mempunyai kesulitan dalam pembacaan/dalam komunikasi tertulis. Yang akhirnya, seperti semua proses kelompok lain, mutu tanggapan sangat banyak dipengaruhi oleh komitmen dan minat dari  peserta. Delphi memerlukan motivasi yang tinggi dari peserta, karena orang lain tidak hadir untuk merangsang dan memelihara motivasi.

PESERTA DALAM DELPHI
Peserta dalam Delphi adalah tiga kelompok orang yang berbeda yang akan menyelesaikan proses: (1) manajemen puncak pembuat keputusan yang akan menggunakan hasil dari studi Delphi; (2) anggota staf profesional bersama-sama dengan team dukungannya; dan (3) responden Delphi dimana pendapat/pertimbangan akan dicari.

1)  Pembuat keputusan
Delphi adalah suatu alat untuk membantu pemahaman/pengambilan keputusan. Oleh karena itu, Delphi akan menjadi suatu proses yang efektif hanya jika pembuat keputusan itu akhirnya bertindak atas hasil dari Delphi dengan aktif dan terlibat sepanjang proses itu.  Konsekwensinya, kelompok kerja yang terdiri dari 5-9 anggota, itu adalah pembuat keputusan dan staff yang secara formal dibentuk untuk melakukan proses Delphi. Kelompok kerja ini akan mengembangkan dan meneliti semua kuesioner, menilai kegunaan dari informasi yang diperoleh, dan meninjau kembali kuesioner jika kuesioner tersebut tidak efektif.

2)  Staff
Anggota staff professional adalah orang yang dapat memandu kelompok kerja mengerjakan proses Delphi. Orang tersebut perlu mempunyai pengalaman dalam merancang dan melaksanakan studi Delphi. Ini juga sangat menolong jika anggota staff berpengetahuan luas tentang area permasalahan atau isu yang sedang dipelajari. Sebagai tambahan, staff pendukung juga diperlukan untuk melakukan beberapa hal seperti mengetik dan mengirimkan daftar pertanyaan, menerima dan melakukan beberapa pengolahan data, dan menjadwalkan pertemuan-pertemuan.

3)  Responden
Responden adalah orang yang  memperhatikan/memutuskan, dan yang mau menjawab kuesioner.  Delphi tidak akan sukses jika pembuat keputusan dan staff tidak bisa memilih responden dengan tepat.

PROSES DELPHI

1) mengembangkan pertanyaan Delphi
Ini adalah kunci proses Delphi. Jika responden tidak memahami pertanyaan awal  yang luas yang merupakan fokus dari teknik Delphi, mereka dapat menjawab dengan tidak tepat atau menjadi frustasi dan kehilangan minat.  
        Untuk ilustrasi langkah pertama ini, bayangkan pembuat keputusan sudah meminta studi Delphi untuk mengevaluasi kegunaan dari Teknik Delphi di dalam perencanaan program. Dalam ilustrasi ini, staff mungkin menemukan bahwa pembuat keputusan yang pertama membicarakan tentang keinginan studi Delphi dalam rangka mengidentifikasi area di mana Delphi dapat digunakan sebagai suatu bantuan perencanaan. Setelah beberapa diskusi, bagaimanapun juga, mungkin menjadi jelas bahwa pembuat keputusan telah memperoleh informasi dengan baik tentang subjek ini dan perhatian yang riil, mereka mendapatkan suatu gambaran yang seimbang menyangkut kelemahan dan kekuatan Delphi sebagai alat untuk menaksir kebutuhan masyarakat dan menetapkan prioritas. Jadi, penting untuk berhati-hati didalam merumuskan pertanyaan Delphi.

2) Memilih dan menghubungi responden

         Supaya terjadi partisipasi yang efektif dari responden, maka responden: (1) harus merasa secara pribadi terlibat dalam pengambilan keputusan; (2) mempunyai kesempatan untuk berbagi informasi; (3) memiliki motivasi untuk terlibat dalam menyelesaikan jadwal dan tugas Delphi; dan (4) merasa bahwa dalam pengumpulan pendapat/pertimbangan dari responden meliputi informasi dimana mereka juga ikut menilai dan mengakses informasi.

3) Memilih ukuran contoh
Ukuran panel responden bisa berubah-ubah. Dengan suatu kelompok orang yang homogen, 10-15 peserta mungkin cukup. Bagaimanapun, kasus di mana berbagai kelompok referensi dilibatkan, beberapa ratus orang mungkin mengambil bagian. Pengalaman  menunjukkan bahwa apabila jumlah sampel melebihi 30 orang, maka kelompok tidak akan efektif menghasilkan keputusan yang diharapkan.

4) Mengembangkan Kuesioner 1 dan test
Kuesioner pertama dalam suatu Delphi mengijinkan peserta untuk menulis jawaban tentang isu masalah besar. Keuntungan langkah ini meliputi:
1)    Waktu cukup untuk berpikir dan refleksi
2)    Menghindarkan pemusatan yang tak perlu pada gagasan tertentu
3)    Menghindarkan kompetisi, tekanan status, dan penyesuaian issu.
4)    Keuntungan dari masalah utama yang masih ada/tersisa.
5)    Menghindarkan untuk memilih antara gagasan secara prematur  (tetapi unik ke Delphi)
6)    Fleksibilitas dalam membiarkan peserta untuk menjawab pada waktu yang sangat menyenangkan.
7)    Tidak memerlukan waktu perjalanan.
8)    Keadaan tanpa nama.

5) Analisa Kuesioner 1

       Pada langkah ini dalam studi Delphi, kuesioner telah dikirim dan dikembalikan oleh responden. Analisa dari kuesioner seharusnya menghasilkan suatu ringkasan daftar identifikasi “item” dan membuat komentar.   Daftar seharusnya mencerminkan pendapat awal responden mengenai variabel kunci, sekalipun cukup singkat untuk semua responden dengan mudah meninjau ulang, mengkritik, mendukung, atau menentang.

6) Mengembangkan Kuesioner 2 dan test

     Untuk mengembangkan kuesioner 2, maka dibutuhkan penjelasan yang mudah dimengerti oleh responden.  Kuesioner 2 disusun dari pernyataan-pernyataan yag telah dikumpulkan pada kuesioner 1.  Karena jawaban dari responden pada kuesioner 1 beraneka raman, maka perlu disusun kalimat yang lebih mudah dipahami yang mewakili pernyataan-pernyataan responden pada kuesioner 1. Sebelum kuesioner 2 dikirim ke responden, maka perlu dilakukan uji (pree test) terhadap kuesioner 2 dengan menggunakan responden diluar responden yang sebenarnya.

7) Analisa Kuesioner 2
     
     Analisa dari kuesioner 2 sebaiknya: (I) menghitung jumlah suara untuk item; dan (2) meringkas komentar tentang materi di dalam suatu format yang menimbulkan pemikiran/perhatian dan mudah untuk memahami.

8) Mengembangkan Kuesioner 3 dan test

    Tujuan yang sebenarnya dari studi Delphi kita adalah untuk menghasilkan konsensus atas issu-issu penting (Kuesioner 1).  Kuesioner 2 berisikan klarifikasi dari pernyataan-pernyataan responden yang teridentifikasi pada kuesioner 1 dan mengetahui urutan (bobot) dari masing-masing pernyataan. Pada kuesioner 3 yang diharapkan adalah meminta peserta untuk meninjau ulang, menanggapi dan menyatakan pertimbangan individu mereka menyangkut pentingnya masing-masing item.

9) Analisa kuesioner 3
Analisis kuesioner 3 mengikuti prosedur yang sama seperti analisis kuesioner 2. Penelitian fakta sebaiknya diambil untuk memastikan kejelasan dalam persiapan dalam statemen hasil akhir ini sedemikian sehingga individu yang tidak mengambil bagian di dalam studi Delphi memahami kategori ringkasan dan dapat mengutarakan.

10) Menyiapkan laporan akhir

       Peserta dan anggota kelompok kerja sudah mempunyai banyak pekerjaan dalam studi Delphi. Kedua-duanya berhak mendapat umpan balikk. Analisa kuesioner 3 dapat digunakan sebagai suatu sarana parsial untuk umpan balik itu. Bagaimanapun, suatu laporan akhir sebaiknya meringkas tujuan dan proses seperti halnya hasil itu. Laporan akhir bisa juga meminjamkan hak kekuasaan ke tindakan yang diambil oleh pembuat keputusan.  Itu adalah, jika  Delphi digunakan dalam pengembangan dari agenda konferensi, adalah penting untuk menulis suatu laporan ringkas untuk menunjukkan bagaimana Delphi mempengaruhi konferensi itu sendiri. Jika Delphi digunakan untuk membuat keputusan mengenai kebijakan, ini sebaiknya mungkin untuk mengembalikan posisi kertas itu sewaktu dikembangkan atas dasar kuesioner 3. Dalam beberapa kasus, penting bahwa peserta diberi suatu ringkasan menyangkut hasil dari kuesioner 3 dalam rangka mencapai hasil akhir dari proses Delphi.

MODIFIKASI DELPHI

Di atas bukan satu-satunya format Delphi. Delphi adalah suatu alat pembuatan  keputusan dan harus dimodifikasi untuk menjawab kebutuhan dari  individu pembuat keputusan.  Beberapa contoh modifikasi diberikan dibawah ini. 

Beberapa studi Delphi sudah menggunakan tape kaset sebagai gaya tanggapan dibanding daftar pertanyaan. Responden nampak bereaksi dengan baik. Dalam banyak kasus, lebih mudah untuk memperbicangkan tentang subject dibanding menulis tentang itu. Bagaimanapun, haruslah diingat bahwa waktu analisa harus ditingkatkan sebab masing-masing tape harus didengarkan, menulis penjelasan, dan menganalisa.
 Beberapa studi Delphi berhenti setelah daftar pertanyaan yang kedua. Jika suatu pilihan akhir tidak diperlukan dan klarifikasi tidak penting, mungkin saja cukup untuk mengumpan balikkan ke responden analisa kedua dari daftar pertanyaan Delphi.
 Beberapa studi Delphi dimulai dengan suatu daftar pertanyaan yang serupa dengan daftar pertanyaan 2.  Itu adalah, kelompok kerja mungkin menggunakan suatu teknik seperti NGT untuk mengidentifikasi materi, kemudian menggunakan Teknik delphi untuk memperoleh partisipasi yang lebih luas di dalam menjawab dan memilih.
 Studi Delphi lain meminta komentar dari daftar pertanyaan yang kedua  hanya dari orang yang menyimpang dengan konsensus mayoritas.  Sebagai contoh, jika suatu responden diurutkan dengan tinggi yang tidak ada yang lain memilih, ia diminta untuk mempertahankan posisi itu. Bagaimanapun, proses seperti itu dapat dikatakan seperti paksaan, menghasilkan kemunduran ke arah rata-rata.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Peran Guru dalam Filsafat Eksistensialisme

PERAN GURU DALAM
FILSAFAT EKSISTENSIALIS

Filosofi (eksistensialisme) ini berasal dari Eropa, muncul setelah Perang Dunia I. Filosofi eksistensialis dalam bebarapa aspek adalah usaha untuk menolak tradisional dan menyebut filosofi kontemporer.
Pengetahuan yang mendasar dari filsafat ini adalah tanggungjawab manusia kepada dirinya sendiri guna membangun target dan kebebasan menentukan keputusan dari kelompok norma-norma. Pemikiran umumnya aliran ini digambarkan sebagai manusia yang bertindak bebas guna memilih dan memutuskan apa yang berarti bagi dirinya.
Hasil kebebasan pilihan manusia menentukan akan menjadi apa manusia itu. Oleh karena itu manusia memutuskan esensinya pada dirinya, yang terus berlanjut menjadikan hasil atas tindakannya. Manusia bertanggungjawab atas keadaan dirinya. Masing-masing tindakan mendefinisikan alam manusia yang berada pada pemikiran mereka.
Kebenaran ditentukan pada masing-masing orang dalam istilah apa yang berarti bagi dirinya. Tidak ada cara yang membedakan kebenaran dengan kesalahan dengan menggunakan kriteria objektif. Untuk mendatangkan kebenaran, tiap manusia harus tidak memaksakan kepada manusia yang lainnya.
Sebagai suatu dasar berpikir mengenai filosofi pada pemikiran diri sendiri (sistem kepercayaan). Bagaimana kita mendapatkan kepercayaan yang kita pegang sekarang? Darimana kita mendapatkan kepercayaan? Bagaimana kepercayaan-kepercayaan berhubungan dengan kebijakan dan tingkah laku? Jika seorang manusia memiliki hubungan antara dua hal atau satu hal dan terdapat sebuah karakteristik didalamnya, dia akan berpegang pada kepercayaannya.
            Kita memegang kepercayaan pada tingkat yang bermacam-macam. Dalam kepercayaan orang-orang dulu, Bem membedakan kepercayaan Zero-order dan kepercayaan First order. Kepercayaan zero order adalah beberapa hal yang kita ambil untuk menjamin hal-hal yang tidak kita ketahui. Kepercayaan one zero order adalah keyakinan dalam keberadaan pengalaman kita, yang diungkapkan dengan berbagai cara.
 Bila aku lihat dan aku akan mempercayainya”. Kalimat tersebut adalah yang paling sering kita ucapkan. Kita biasanya menaruh perhatian pada kepercayaan first order karena kita dapat membayangkan jalan lain bagi kepercayaan tingkat ini. Kita bisa menerima bahwa air membanjiri lereng bukit, tetapi dapat dibayangkan bahwa itu mungkin menurut pikiran melewati atas bukit yang akhirnya jalan keluarnya adalah sesuatu yang bisa disadari.
            Dalam keterkaitan antara paham eksistensialis dengan peran guru dan kepercayaan peran serta posisi guru pada eksistensialisme itu akan dipaparkan lebih lanjut.
Makalah ini akan memaparkan peran guru dalam kepercayaan-kepercayaan kita tentang :
1.    Manusia
2.    Warga orang dewasa yang belajar
3.    Tujuan untuk orang dewasa
4.    Proses belajar
5.    Isi pelajaran
6.    Evaluasi

Aliran utama filsafat Barat abad keduapuluh yang banyak diilhami oleh Heidegger dan didasarkan pada kepercayaan bahwa penemuan makna eksistensi manusia merupakan peran utama filsafat. Ini secara khas diselesaikan dengan menggunakan penalaran analogis, yang didasarkan pada pembedaan fundamental antara benda-benda yang eksis dan yang-ada dan/atau yang-tiada.

1. Kepercayaan tentang Manusia
            Isaiah Berlin, sejarawan ide dan filsuf Inggris Keturunan Rusia, dikenal “tamu dari masa depan”. Sebutan tersebut diperoleh oleh A. Akhmatova, penyair Rusia keduanya mempunyai ikatan batin yang kuat dengan sastra tanah Rusia. Pembicaraan keduanya semakin menyalakan gairah yang terus berkobar sepanjang hidupnya untuk membela kebebasan individu yang menjadi inti pandangan liberal yang dianutnya, sekaligus menelusuri pemikiran yang mendasari totalitarianisme di Rusia.
            Dari penemuan Berlin, diketahui bahwa totalitarianisme berasal dari hasrat manusia untuk pembebasan, namun dengan bersandarkan pada keyakinan akan kebenaran absolut dan universal. Yang lebih ironis, kecenderungan absolutistik terasa pada pemikiran Pencerahan, yang merupakan sandaran pandangan liberal yang dianut olehnya. Mulai dari saat itu tumbuh kritikan atau klaim tentang universal yang absolut pada pemikiran Pencerahan yang berkembang di kalangan intelektual Perancis abad 18 dengan mengambil inspirasi dari gagasan kontra –Pencerahan, dari pemikiran Italia abad 18, Giambastita Vico, dan dua tokoh pelopor romantisisme Jerman abad 18, Johann George Harman dan Johan Gottfried Herder. Namun, meskipun memberikan kritikan terhadap pencerahan dan pelucutan universal pencerahan dia tetap seorang liberal.
            Posisi Liberal Berlin menarik untuk diamati pada konteks dunia pascamodern saat ini. Saat orang menyudutkan klaim universal modernisme, dan menyambut pluralisme pascamodern yang ditandai dengan penegasan politik identitas berdasar budaya lokal, etnisitas, ras dan agama, pembelaan terhadap kebebasan individu seakan tidak diperhatikan. Sesungguhnya, politik identitas mengandung represinya sendiri, yang menjadi korban adalah kebebasan individu. Politik identitas yang menempatkan budaya lokal, etnisitas, ras dan agama sebagai unit terkecil yang berguna melawan universalisme pencerahan. Tidak selamanya budaya lokal, etnisitas, ras dan agama mengandung unsur mencerahkan. Beberapa unsur pra-pencerahan yang dapat membelenggu
            Politik identitas berdasarkan agama dapat muncul dalam ekspresinya yang fundamentalistis. Fundamentalis agama menolak Universalisme Pencerahan untuk menawarkan universalismenya sendiri. Kaum fundamentalis melarang kebebasan individu, termasuk kebebasan menafsirkan agama, karena agama adalah paket kebenaran tunggal yang melampaui ruang sehingga perlu ditafsirkan.

·        Landak Pencerahan, Rubah Romantisisme
Tafsiran yang timbul, yaitu rubah dengan segala kecerdikannya yang beracam-macam, bisa dikalahkan oleh landak yang hanya satu pertahanan diri. menurut Berlin, pemikir jenis “landak”  menghubungkan segala sesuatu dalam satu pandangan tunggal, satu prinsip universal yang menata kenyataan dalam satu sistem yang koheren sehinga heterogenitas kenyataan bukan sesuatu yang tidak terkendali. Namun dapat dimengerti maknanya secara teletologis (mengarah pada satu tujuan). Sementara pemikir jenis “Rubah”, tidak terpaku pada satu telos (tujuan) karena kepercayaan pluralitas sebagai tujuan, satu dengan lainnya tidak berkaitan atau bahkan bertentangan.
            Plato, Pascal, Dante, Hegel, Marx, Dostoevsky dalam tingkatan tertentu masuk dalam jenis landak, sedangkan Herocatus, Aristotles, Erasmus, Goethe, Pushkin, Balzac dan Joyoe adalah jenis rubah. Tolstoy merupakan sesosok yang strategis, dilihat dari kepekaannya dalam menangkap keragaman dan kekayaan faset-faset kenyataan. tolstoy adalah jenis rubah yang pluralis. Namun dia menganggap dirinya sebagai jenis landak sehingga selalu berusaha mencari prinsip utama dalam menangkap dan menjelaskan kenyataan. dari analisis Tolstoy, Berlin membahas Pencerahan dan Kontra-Pencerahan. menurutnya, para pemikir Pencerahan adalah jenis landk sedangkan kaum romantisisme kontra-Pencerahan adalah jenis rubah.
            Kaum pemikir Pencerahan Perancis abad 18 percaya bahwa rasionalitas adalah kebenaran yang berlaku universal. Adanya keyakinan bahwa manusia pada dasarnya sama di semua tempat dan waktu, tujuan kemanusiaan dan cara yang efektif untuk mencapainya pada prinsipnya dapat ditemukan, bahwa sukses ilmu alam, terutama metode Newtonian, dapat diterapkan pada bidang moral, sosial, politik dan ekonomi sehingga dapat menghapus penderitaan manusia.
            Menurut Berlin, pemikiran pencerahan yang percaya pada rasionalitas yang universal dan The Idea of Progress sebenarnya hanya mengungkapkan kepercayaan terhadap kebenaran tunggal sebagai sendi utama peradaban Barat sejak zaman Yunani dan Yahudi Kristen. Isi kebenaran tunggal dapat berbeda-beda tapi polanya sama, yaitu Monisme. Tiga sendi kepercayaan kaum Monis, yaitu : mereka percaya bahwa semua pertanyaan yang benar pasti ada jawabannya, bahwa kebenaran pasti diketahui dan ditemukan dengan cara, metode atau teknik yang bisa dipelajari dan diajarkan sehingga direalisasikan di muka bumi, kebenaran akan saling kompatibel satu sama lain dan membentuk satu harmoni dalam keseluruhan yang sempurna.
            Dalam essay Berlin, The Originality of Machiavelli, menganggap penilaian Machiavelli orisinal karena sudah menunjukkan kemustahilan penggabungan dua moralitas, tujuan hidup. Sedangkan gagasan pluralisme kultural dari Vico, menurut Berlin, yang secara diametral menghantam sendi-sendi dan keyakianan universalisme pemikiran Barat, termasuk Pencerahan. menurut Johann Georg Hamann, nilai bukanlah hal yang ditemukan dri hukum nasional alam semesta melainkan diciptakan. oleh karena itu, klaim universalistik dan objektivistik menjadi tidak bermakna karena kenaikan dan kekhasannya.
            Menurut Johann Gottfried Herder, bahwa individu hanya bisa merealisasikan diri secara penuh saat menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas tertentu, tertanam dalam kultur tertentu dengan tradisi, bahasa dan pandangan dunioa yang khas. penolakan romantisisme terhadap pencerahan Perancis terkait erat dengan konteks sosial politik. abad 18 adalah masa ketika Perancis berada dalam superior politik, militer dan ekonomi. Saat itu, pemikir Pencerahan, menganggap kebenaran pencerahan berlaku universal. Saat itu, Jerman masih berada dalam bayang-bayang Perancis. Romantisisme Jerman menawarkan kemajemukan ukuran kebenaran dan kemajuan beberapa ekspresii perlawanan terhadap Pencerahan Perancis yang optimistis dengan kliam universalismenya. perlu adanya penekanan bahwa romantisisme adalah kebenaran dan nilai dari sesuatu yang diciptakan sendiri dan karena itu selalu bersifat plural dalam perkembangan sejarahnya. nasionalisme, eksistensialisme dan ekspresionisme merupakan manifestasi dari romantisisme. namun, bukan berarti fasisme dan anarkisme tidak bisa dilepaskan dari romantisisme.
            Dalam ceramahnya yang bertajuk “Two Concept of Liberty”, Berlin mengontraskan dua pandangan tentang kebebasan, yaitu : kebebasan positif (bebas untuk) dan kebebasan negatif (bebas dari). Kebebasan positif adalah kebebasan sebagai realisasi diri sebagai kontrol dan penguasaan diri oleh nasionalitas. Sedangkan kebeebasan negatif, yaitu kebebasan dalam beberapa situasi tidak adanya tekanan, hambatan, paksaan atau kekangan dari luar diri kita. Asumsi dari kebebasan positif adalah adanaya pembagian diri kedalam dua bagian, yaitu ; bagian diri yang rasional, yang merupakan aspek diri yang sejati yang lebih tinggi derajatnya, dan bagian diri yang tidak rasional, yaitu ; diri empiris yang dikendalikan oleh emosi, prasangka, dan nafsu. Pluaralisme Berlin adalah pluralisme dengan tragicsense of life karena dalam pluralismenya, Keharusan memilih tetap menjadi niscaya, tapi pada saat yang sama akan menyadari ada sesuatu yang hilang dan tidak tergantikan. menurutnya, kebebasan penting bukan karena ia sebagai sarana bagi tujuan lain dari luar dirinya. kebebasan bermakna bukan karena berlandaskan kepastian absolut. Namun, bernilai karena ia adalah tujuan pada dirinya sendiri, sebagaimana hidup bernilai karena ia menjadi tujuan dari dirinya sendiri.  

2. Kepercayaan terhadap Warga Orang Dewasa yang Belajar
Pada pelatihan yang dikembangkan dengan pendekatan partisipatif, pengendalian kondisi dan suasana pelatihan merupakan hal yang tidak dapat dianggap ringan perannya. Karena pelatihan juga menekankan pada proses, maka kondisi yang terbangun selama pelatihan akan mempengaruhi pencapaian output darinya. Dengan kata lain menjaga dinamika kelas atau peserta adalah penting.
Dinamika kelas harus sejak dini ‘direkayasa’ sedemikian rupa agar keterlibatan seluruh warga pelatihan tetap tinggi. Salah satu masalah yang sering timbul dalam pelatihan partisipatif adalah tidak terciptanya suasana dan iklim pelatihan yang baik, karena belum menyatunya peserta dengan pendekatan pelatihan yang ada.
Sebagai contoh, guru di dalam kelas diharapkan untuk mengajar dan murid diharapkan untuk belajar. Suatu ide bahwa murid dapat mengajar, guru dapat diajar adalah tidak biasa. Tetapi apabila murid dapat diharapkan murid lain dan guru, ini tidak biasa dan memerlukan perubahan dalam hal peranan, norma kelompok, dan kepemimpinan dalam warga pelatihan. Perubahan semacam itu akan merupakan ketidak-nyamanan, kekaburan dan konflik. Hal itu mengurangi kemampuan untuk memecahkan masalah secara efektif.
Pada pelatihan yang berdurasi relatif panjang, atau dengan pendekatan yang monoton dan kurang melibatkan peserta, kegairahan peserta dalam mengikuti setiap materi menjadi menurun. Ini merupakan bagian yang berat bagi fasilitator. Untuk itu rangkaian materi dalam pelatihan harus diselingi dengan kegiatan "pemecah kebekuan" atau "ice breaker" dan pembangkit daya dan dinamika atau "energiser".
Secara umum pembentukan suasana ditujukan antara lain untuk :
  • memecahkan kebekuan suasana pelatihan,
  • merangsang minat dan perhatian peserta pelatihan,
  • menghantarkan suatu pokok bahasan tertentu yang menjadi materi utama kegiatan yang bersangkutan,
  • menciptakan kondisi yang berimbang antara pelatih dan peserta, serta antar peserta yang ‘berbeda’ level,
Tidak ada teori khusus yang dikembangkan mengenai "pemecah kebekuan" ini. Pada dasarnya keterampilan ini dikembangkan lewat pengembangan kepekaan yang tinggi seorang fasilitator dalam memproses pelatihan. Orang awam sering bilang, jam terbanglah yang menentukannya, sebagaimana filosofi pelatihan yang mengembangkannya, yakni pelatihan berdasar pengalaman (pelatihan orang dewasa). Kuncinya adalah keberanian bereksperimen.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  1. Isi: kemampuan fasilitator yang meramu dalam menentukan keberhasilannya. Dengan isi permainan sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda.
  2. Waktu: Mempertimbangkan dengan waktu untuk materi utama, kecuali jika dimaksudkan untuk menghantar kepekaan seorang fasilitator yang menentukannya.
  3. Peserta: Mengingat waktu dan isi, ditambah lagi dengan kondisi lokasi/tempat, dan melibatkan semua orang. yang perlu diperhatikan yaitu kepekaan memilih peserta
·         proses: pelatihan orang dewasa sebagai kegiatan yang indah untuk dikaji. sehingga perlu diolah sehingga enak untuk disajikan dan bagian yang memperkaya keseluruhan tubuh pelatihan. Pada beberapa kegiatan, ice breaker disajikan dengan menggunakan alat dan bahan pembantu. Bila harus demikian, pandai-pandailah memilih alat bantu yang sesuai dengan kondisi peserta. Hindari pemakaian alat atau bahan yang susah didapat di lokasi. Hal ini penting, sehingga peserta dapat mereplikasikannya selepas pelatihan dengan bahan yang ada. Pemakaian bahan yang mahal juga akan menimbulkan dampak kurang baik, karena dapat mengundang pemikiran peserta mengenai "kemewahan" suatu proses pelatihan. Prinsip ini sama dengan prinsip pemilihan alat bantu belajar dalam pelatihan secara umum. Memperbanyak alat-alat bantu visual akan memudahkan memproses serta diingat oleh peserta pelatihan.
      Kaidah umum, adalah nilai umum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini menyangkut nilai sosial, agama, budaya (tata krama), dan bahasa, termasuk bahasa tubuh. Hal-hal tersebut juga berlaku dalam penyajian ice breaker. Misalnya, ice breaker mana yang tepat digunakan untuk pelatihan pejabat, petani, orang tua, perempuan dan lain-lain. Meskipun pada dasarnya setiap bahan ice breaker bisa diproses untuk siapa saja, namun ada baiknya anda sebagai fasilitator memperhatikan hal ini, bila anda belum terampil meramunya. Ini lebih baik, daripada memaksakan, dan akhirnya merusak suasana pelatihan secara keseluruhan.
3. Kepercayaan Tentang Proses Belajar
Mempelajari filsafat bagi pendidikan orang dewasa sangat penting dalam rangka untuk mempertimbangkan dan menganalisis tentang kapan, apa, mengapa, dan program apa yang akan di berikan pada pendidikan orang dewasa agar dapat memberikan kombinasi terhadap pemecahan masalah orang dewasa dan masyarakat. Pembahasan filsafat di sini di batasi khusus pada sistem keyakinan (pandangan dunia) terhadap pelajar/peserta didik orang dewasa untuk memberikan dasar atau pelengkap pada pendidikan orang dewasa. Dalam memberikan pandangan seseorang terkait dengan nilai, sikap, dan keyakinan yang dimilikinya. Sebab, nilai membentuk penerimaan atau penolakan terhadap yang baik atau buruk. Sikap membentuk suka atau tidak suka. Keyakinan (pandangan) memberikan pertimbangan untuk menilai kebenaran. Keyakinan terhadap sesuatu dapat benar, suka atau tidak suka. Salah satu keyakinan mengenai filsafat orang dewasa yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme yaitu pandangan filsafat modern dan berhubungan dengan tujuan dan cara adanya manusia. Pada intinya aliran ini memberikan penekanan individualistis dan kebebasan dimana manusia itu yang menentukan dirinya, tujuan hidupnya, aktifitasnya, dan bebas dari ikatan kelompok. Kebenaran sebagai pilihan eksistansial dan estetika pembangkangan terhadap aturan-aturan umum. Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau konsep belajar mengemukakan bahwa belajar bagi orang dewasa adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, “ Learning is experiencing by exploration and discovery”(Reg Revans, 1998). Siklus belajar orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu dengan kuriositas tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan testing di lapangan dan terakhir refleksi sebuah pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul dalam diri (Charles Handy,1999). Penulis buku terkenal ini mendefinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya meliputi pemahaman, aplikasi dari metodeologi baru, keahlian, sikap dan nilai. Belajar bagi orang dewasa ternyata memiliki berbagai dimensi. Oleh karena itu menjadikan pendidikan (education) sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang berkemampuan rata-rata atau minus (Alvin Toffler).

Aplikasi Belajar
            Merujuk pada sekian pandangan tentang belajar bagi orang dewasa, maka yang perlu dilakukan adalah menjadikannya sebagai konsep hidup personal yang implementatif berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Konsep tersebut harus diformulasikan kedalam pemahaman khusus yang dirasakan bekerja mengubah hidup dan situasi. Guru adalah situasi konkrit yang dialami dengan materinya berupa tantangan. Inilah makna esensial dari petuah bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib.

Proses Belajar
            Salah satu pertanda inti dari orang dewasa adalah pemahamannya terhadap bagaimana dunia konkritnya bekerja. Dengan memehami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya. Disamping itu, pemahaman tersebut akan menyalurkan energi positif ketika proses sedang dijalani. Disinilah yang membedakan apakah kita merasakan tantangan sebagai proses untuk dinikmati atau proses yang dirasakan dengan kepedihan.

4. Kepercayaan Tentang Tujuan Orang Dewasa
Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu pendidikan yaitu manusia atau sekelompok kecil manusia dalam fenomena pendidikan.
1)    Pendidikan dalam praktek memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek dilapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan –alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, social dan moral.
2)    Landasan sosial dan Individual pendidikan
Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial dan cultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif terbatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan istri, antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawannya yang baik dan lengkap. Pada tingkat skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesame (subyek) yang masing-masing bernilai setara.
3)    Teori pendidikan memadu jalinan antara ilmu dan seni
Adanya aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah menginsyaratkan  bahwa manusia dalam fenomena (situasi) pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia sebagai nilai.

5. Kepercayaan Kita Tentang isi Pembelajaran
            Seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa dasar berpikir mengenai filosofi adalah pemikiran pada diri sendiri (sistem kepercayaan). Bagaimana kita mendapatkan kepercayaan yang kita pegang sekarang? Kepercayaan itu sendiri dasarnya berasal dari dua sumber, yakni:
  1. Dari pengalaman kita
  2. Dari kewenangan

Begitu juga paham eksistensi yang menekanakan peran guru dalam kepercayaan kita tentang isi pembelajaran yang pada intinya berisi pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang seharusnya dipelajari? Apa sumber yang terkandung didalamnya? Apa yang kita percayai mengenai peran makna dalam pendidikan orang dewasa?
Kaum eksistensialis mempercayai bahwa manusia sendiri bertanggungjawab pada sistem nilainya. Tetapi terdapat dimensi pertanggungjawaban. Manusia bertanggungjawab pada tindakannya sendiri. Tindakan-tindakan ini berefek pada manusia yang lainnya, dan juga sebuah nilai pilihan termasuk pada pertanggungjawaban untuk tindakan-tindakan yang lain. Teori-teori belajar menyarankan agar belajar efektif dibutuhkan keaktifan. Tidaklah cukup siswa hanya mendengarkan, melihat atau membaca saja, siswa harus mengerjakan sesuatu dengan materi belajar, mereka perlu mendemonstrasikan bahwa mereka tahu atau membutuhkan modifikasi pengetahuan sebelumnya diakomodasikan dengan informasi baru. Atau mereka perlu menganalisa informasi baru.
Umpan balik adalah komponen penting dalam interaksi. Umpan balik menyediakan pengetahuan tentang hasil dari siswa tentang indikasi apakah sudah belajar dengan benar, atau berupa suatu tanggapan dari orang lain yang mengindikasikan bagaimana ia belajar, apakah sudah membaca atau belum.
Peran guru dalam hal ini dapat digambarkan ketika guru menyajikan sejumlah teori sosial terhadap siswa-siswanya. Dalam hal ini isi pelajaran adalah sosiologi. Para siswa akan merasa kebingungan jika sajian-sajian teori itu tidak tepat sasaran dan tidak sesuai dengan situasi sosial lingkungan sekitarnya. Mereka harus berpikir dua kali untuk mengasosiasikan teori dengan kenyataan hidupnya dan selanjutnya mencerna teori sajian guru. Keterlambatan dalam menginternalisasi materi pelajaran pun terjadi. Konsep siswa baru pada tahap asosiasi, tetapi waktu pelajarannya terlanjur selesai. Siswa enggan melanjutkan hal itu lagi karena telah  terjaring limit waktu dan harus beralih ke mata pelajaran yang lain.
Sekurang-kurangnya ada tiga masalah pokok yang melatarbelakangi keengganan siswa untuk mempelajari sosiologi, dan tidak terlepas dari isi pelajaran itu sendiri. Pertama, masalah teknik pembelajaran yang tidak membutuhkan motivasi siswa. Seharusnya proses pembelajaran itu dapat memacu keingintahuan siswa untuk membedah masalah-masalah seputar lingkungan sosialnya sekaligus dapat membentuk opini pribadi terhadap masalah-masalah tersebut. Disini, mereka bukan lagi dianggap kertas kosong atau pribadi yang menerima secara pasif, pribadi yang tidak mengetahui apa-apa, melainkan pribadi yang telah berinteraksi dengan lingkungan dan berhak untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Kedua, eksistensi guru bukan sebagai fasilitator yang membelajarkan siswa, melainkan pribadi yang mengajar atau menggurui siswa. Kalau hal ini menjadi prioritas dengan pembelajaran, maka kesan negatif yang bisa mematikan kreatifitas siswa pun timbul. Peran aktif siswa dalam mengeksplorasi dan mengkonstruksi pengetahuannya sangat diutamakan. Guru hanya memfasilitasi siswa guna mengikuti pola-pola kognitif dan memperlihatkan konsep pengetahuannya itu dapat berlaku benar untuk setiap keadaan. Ketiga, penyampaian pesan pembelajaran dengan media yang kurang interaktif dan atraktif. Yang diharapkan dari siwa adalah menyenangi pelajaran, merasa membutuhkan ilmu itu serta dapat melaksanakan pesan pembelajaran. Siswa dapat menterjemahkan isi pesan itu kedalam ranah-ranah kognitif karena dari situlah sumber kompetensi baginya dan haluan evaluasi bagi guru siswa dapat memilih keahlian afektif dan psikomotorik yang bisa diukur.


6. Apa Kepercayaan Kita Tentang Evaluasi
            Filsafat, menurut para ahli sebagai cinta yang mendalam terhadap pengetahuan. Kebanyakan filosof memberikan pandangan yang berbeda tentang hal tersebut. Keyakinan memberikan pertimbangan untuk menilai kebenaran. Sistem filsafat dapat memberikan jawaban terhadap realitas pengetahuan dan nilai yaitu melalui suatu pandangan yang salah satu diantaranya adalah eksistensialisme yang  memberikan penekanan pada aspek individualitas dan kebebasan manusia yang mengukur  dan menentukan sendiri dirinya, tujuan hidupnya, aktifitasnya dan bebas dari ikatan.
            Kepercayaan tentang suatu evaluasi sangat penting, hal tersebut bertujuan untuk menilai atau mengukur yang pada akhirnya didapat suatu hasil kesimpulan. Peran guru dalam proses pendidikan sangat penting, hal tersebut disebabkan karena guru merupakan sentral ilmu. Namun keberadaan guru saat ini dalam kaitannya dengan peningkatan kemampuan siswa banyak memperoleh kritikan. Salah satu kritik yang dilontarkan yaitu alasan mengapa guru sulit melakukan perubahan. Pertama, guru sering tidak mengerti apa isi kurikulum baru ataupun perubahan yang diinginkan. Kedua, banyak guru meragukan perubahan atau pembaharuan yang ada. Ketiga, pendidikan guru yang statis dan yang terakhir ialah tugas guru dipahami sebagai konservatif.
            Agar adanya keselarasan dari apa yang telah dikemukakan diatas, perlu adanya kegiatan pengkoreksian atau pengevaluasian tentang apa, bagaimana yang benar mengenai posisi guru di dalam proses pendidikan. Pada pandangan eksistensialisme dimana adanya individualistik dan kebebasan lebih ditekankan. Namun dalam suatu proses pendidikan hal tersebut perlu dipertanyakan kembali mengingat guru tidak bisa berlaku sesuka dirinya sendiri, karena walau bagaimanapun ada aturan-aturan pendidikan yang mengikat atau mengatur posisi guru.

Jumat, 08 Oktober 2010

Pengertian Kompetensi

Pengertian Kompetensi
Kata kompetensi adalah terjemahan dari kata Inggris, competency. The American Heritage Dictionary mendefinisikan competency sebagai the state or quality of being properly or wellqualife. Kompetensi dalam defenisi ini berarti mutu yang seharusnya, atau syarat atau standar yang baik dari suatu pekerjaan. Menurut Lucia dan Lepsinger (1999), defenisi ini masih bersifat umum dan belum menguraikan secara lengkap substansinya. Keduanya kemudian mempertergas defenisi kompetensi menurut Klemp yakni an underlying characteristic of a person which results in effective and/or superior reformance on the job, kompetensi adalah sifat dasar seseorang yang berpengaruh pada kinerja kerjanya yang efektif dan sangat menonjol. Secara lebih lengkap, defenisi kompetensi dikemukakan oleh Parry mengacu kepada para pakar dalam konferensi tentang kompetensi di johannesburg tahun 1995, yakni, a cluster of related knowledge, skill, and attitudes that affects a major part of one’s job (a role or rensposibility), that corelates with performance on the job, that can be measured againts well accepted standars, and that can be improved via training and development (Lucia dan Lepsinger, 1999).
Di sini, kompetensi didefenisikan sebagai kumpulan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berhubungan satu sama lain yang berpengaruh pada sebagian besar pekerjaan seseorang (peranan atau tanggungjawab), yang berkolerasi dengan kinerja dan dapat diukur dan diterima sebagai suatu standar kinerja yang baik; dan pengetahuan, ketrampilan dan sikap itu dapat diperbaiki melalui pelatihan dan pengembangan.
Menurut Lucia dan Lepsinger (1999), model kompetensi (competency model) sebagai kombinasi dari pengetahuan, ketrampilan dan sikap diperlukan oleh orang-orang yang bekerja dalam suatu organisasi sehingga terbentuk suatu cara kerja dan pencapaian hasil yang diinginkan. Jika pengetahuan, sikap dan ketrampilan belum dapat dicapai sesuai dengan standar yang diperlukan untuk suatu pekerjaan, maka ketiga unsur kompetensi itu bisa dikembangkan melalui pelatihan-pelatihan. Ketiga elemen kompetensi (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), dimensi sikap atau sifat-sifat personal adalah yang paling kompleks dan tidak mudah diukur sebagaimana pengetahuan dan ketrampilan. Hal itu disebabkan luasnya wilayah sifat personal itu. Sifat-sifat individu bisa bakat, talenta bawaan sejak lahir atau kehendak/dorongan nurani; atau juga kepribadian seseorang.
Kepribadian terdapat unsur-unsur individual yang berbeda dengan individu lain seperti rasa  percaya diri,  stabilitas emosi, kepekaan, keyakinan diri dan sebagainya. Manifestasi dari semua unsur yakni sifat-sifat pribadi (personal characteristic), bakat bawaan (aptitude), pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) akan terwujud dalam rupa pola tingkah laku (behaviour).
Menurut  Puspadi (2003), kompetensi merupakan kemampuan untuk melaksanakan tugas secara efektif. Secara fisik dan mental, kemampuan manusia yang terdiri dari kognitif, psikomotor dan afekti dapat muncul secara bersama pada saat menjalankan suatu tugas (Klausmeier dan Goodwin, 1966). Klemp mengatakan, “ a job competency in an underlying characteristic of a person which results in effective and or superior performance in ajob. A job competency is an underlying characteristic of a person in that it may be a motive, trait, skill,aspect of one’s self image or social role, or a body of knowledge which he or she uses”.  Kompetensi kerja dengan demikian adalah segala sesuatu pada individu yang menyebabkan kinerja yang prima. Pengetahuan-pngetahuan  khusus yang mencerminkan berbagai kompetensi belum dapat dikatakan sebagai kompetensi kerja. Secara harafiah, pengetahuan mengacu pada kepada kumpulan informasi. Kemampuan menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa dalam hubungannya dengan proses belajar, kompetensi menunjuk kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar. Kompetensi dikatakan perbuatan karena berbentuk perilaku yang dapat diamati, meskipun sering terlihat proses yang tidak nampak seperti pengambilan pilihan sebelum perbuatan dilakukan. Kompetensi dilandasi oleh rasionalitas dilakukan dengan penuh kesadaran “mengapa dan bagaimana” perbuatan tersebut dilakukan. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

Unsur-unsur kompetensi
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hirarki paling bawah dalam taksonomi kognitif Bloom, didasarkan pada kegiatan-kegiatan untuk mengingat berbagai informasi yang pernah diikuti, tentang fakta, metode atau tehnik maupun mengingat hal-hal yang bersifat aturan, prinsip-prinsip atau generalisasi. Proses memusatkan perhatian kepada hal-hal yang dipelajari, belajar mengingat-ingat dan berfikir, oleh Brunner disebut sebagai “cognitive strategy”, suatu proses untuk memecahkan masalah baru (Suparno,  2001).
Menurut Brunner (Suparno, 2001) pengetahuan selalu dapat diperbaharui, dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan perkembangan kematangan intelektual individu. Pengetahuan produk, melainkan suatu proses. Proses tersebut menurut Brunner melibatkan tiga aspek: (1) proses mendapatkan informasi baru dimana seringkali informasi baru ini merupakan pengganti pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya atau merupakan penyempurnaan informasi sebelumnya, (2) proses transformasi, yaitu proses memanipulasi pengetahuan agar sesuai dengan tugas-tugas baru, (3) proses mengevaluasi, yaitu mengecek apakah cara mengolah informasi telah memadai.

Sikap
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) sikap adalah perasaan,  pikiran dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam linkungannya. Sikap merupakan kecondongan evaluatif terhadap suatu obyek atau subyek yang memiliki konsekuensi yakni bagaimana seseorang berhadapan dengan obyek sikap. Meyers (Sarwono, 2002) menyatakan bahwa sikap adalah suatu reaksi evaluasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap sesuatu atau seseorang yang ditujukan dalam kepercayaan, perasaan atau perilaku seseorang.
Sikap didefenisikan sebagai keadaan internal seseorang yang mempengaruhi pilihan-pilihan atas tindakan-tindakan pribadi yang dilakukannya  (Suparno, 2001).

 Keterampilan
Ketrampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti  menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya (Syah, 2002). Keterampilan menekankan kemampuan motorik dalam kawasan psikomotor, yaitu bekerja dengan benda-benda atau aktivitas yang memerlukan koordinasi syaraf dan otot. Seseorang dikatakan menguasai kecakapan motoris bukan saja karena ia dapat melakukan hal-hal atau gerakan yang telah ditentukan, tetapi juga karena mereka melakukannya dalam keseluruhan gerak yang lancar dan tepat waktu (Suparno, 2001). Pengetahuan tentang cara-cara menguasai ketrampilan tertentu akan mengubah arah dan intensitas motivasi seseorang. Ketrampilan yang kompleks dapat dipelajari secara bertahap. Analisis tugas yang kompleks menjadi keterampilan-keterampilan bagian (part skills)’, memungkinkan dikuasainya ketrampilan tersebut. Jika penguasaan atas ketrampilan sudah tercapai, maka akan timbul rasa puas, yang pada gilirannya mendorong orang untuk mengulangi kegiatan tersebut atau melanjutkannya ke tahap yang lebih kompleks (Suparno, 2001).