Senin, 04 Oktober 2010

Pendekatan Pendidikan Orang Dewasa

PENDEKATAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Pendidikan dan Kehidupan
Pendidikan yang dipahami sebagai persiapan untuk memasuki tahap kehidupan melalui proses belajar yang berlangsung seperti dalam lingkaran yang tidak jelas ujung pangkalnya, merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan, bahkan lebih merupakan suatu beban yang harus dipikul dan mengarah pada tiadanya kepuasan, kepedihan dan penuh rasa sakit yang ditandai dengan berbagai kesulitan dalam membaca buku-buku serius yang sulit dipahami, membiasakan diri dalam mengunakan istilah-istilah profesi tertentu dan terpengaruh oleh cemoohan tentang cendekiawan, singkatnya orang yang sedang melakukan proses belajar seperti itu akan menjadi orang dewasa yang menggenggam ”kantong pendidikan” yang berisi suatu permainan belajar yang diperoleh lama sejak ia tergelincir di dalamnya. Seringkali lulusan pendidikan seperti ini digambarkan dalam karikatur yang menyedihkan berupa sosok yang terlindung dalam jubah/toga, memegang ijazah dan berdesis bahwa ia adalah orang terdidik.
Penambahan jumlah fasilitas pendidikan tidak dapat memecahkan masalah pendidikan yang berlangsung dalam lingkaran tersebut, hasilnya sering mengecewakan, hanya berujung pada keberhasilan formalisasi, mekanisasi dan pemrosesan pendidikan. Untuk itu diperlukan konsep-konsep, alasan/penggerak dan metode-metode baru, serta melakukan eksperimen dalam aspek-aspek kualitatif pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, dari berbagai penjuru datang keinginan tentang suatu jenis pendidikan baru yang mulai menegaskan bahwa pendidikan dalam kehidupan bukan hanya persiapan untuk memasuki kehidupan pada masa mendatang yang tidak jelas diketahui. Konsekuensinya adalah semua konsep pendidikan statis yang menekankan pendidikan pada masa muda harus diabaikan, konsep penggantinya adalah pendidikan seumur hidup, sehingga pendidikan tidak pernah berakhir – hal tersebut disebut sebagai pendidikan orang dewasa. Selanjutnya, pendidikan dipahami sebagai proses dalam putaran kehidupan tentang cita-cita non kejuruan. Dalam dunia spesialis, setiap orang perlu belajar tentang bagaimana melakukan pekerjaannya, dan jika pendidikan dalam berbagai jenisnya dapat membantu proses tersebut, serta lebih lanjut membantu pekerja untuk melihat makna dari pekerjaannya, maka pendidikan tersebut berada dalam tingkatan yang tinggi, tetapi pendidikan orang dewasa lebih tepat mulai diterapkan pada saat pendidikan kejuruan telah ditinggalkan.
Subyek versus Situasi
Pendekatan pendidikan orang dewasa dilakukan melalui situasi, bukan subjek. Dalam pendidikan konvensional, para pelajar perlu melakukan menyesuaikan dirinya terhadap kurikulum yang telah mapan dan materi belajar yang ditentukan terlebih dahulu (subject matter centered orientation), sedangkan dalam pendidikan orang dewasa, kurikulum dibangun berdasarkan kebutuhan dan minat pelajar. Hal ini karena setiap orang dewasa berada dalam situasi spesifik dengan penghargaannya terhadap pekerjaan, hiburan, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat dan lainnya, sehingga situasilah yang menjadi alasan untuk melakukan penyesuaian. Dari situasi ini pendidikan orang dewasa dimulai, sedangkan mata pelajaran dibawa masuk ke dalam situasi ini, dan diletakkan dalam kerangka pekerjaan apabila diperlukan. Buku pelajaran dan guru memainkan peran baru dan bersifat sekunder dalam pendidikan jenis ini, mereka harus mengutamakan pentingnya pelajar. Bahkan dalam pendidikan ini, guru dalam pendidikan orang dewasa juga merupakan pelajar. Pendekatan situasi dalam pendidikan berarti bahwa proses belajar berlangsung dalam setting realitas, sedangkan performa intelegensi merupakan fungsi dari hubungan terhadap keadaan sesungguhnya, bukan abstraksi. Orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.
Orientasi terhadap situasi ini dipengaruhi oleh perspektif waktu. Pada andragogi, konsep perspektif waktu yang dipakai adalah “pendidikan adalah berbuat untuk sekarang”, yang diartikan sebagai pengembangan kemampuan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya sekarang. Kemampuan tersebut dipergunakan untuk memecahkan masalah, menjawab tantangan dan menghadapi kendala yang selalu dijumpai dalam hidup. Kemampuan pada manusia akan muncul sebagai besar melalui proses belajar. Belajar pada andragogi berpusat kepada “persoalan”, sehingga belajar diartikan sebagai suatu proses untuk menemukan persoalan dan memecahkan persoalan pada waktu sekarang. Dengan andragogi kita akan menemukan suatu situasi yang akan diperbaiki, tujuan-tujuan yang diiinginkan, pengalaman-pengalaman untuk perbaikan, dan kemungkinan tindakan-tindakan untuk perbaikan situasi sekarang. sumber dari nilai tertinggi dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman pelajar yang ia peroleh dari kehidupannya, dan bukan dari pengalaman orang lain yang disubstitusikan seolah-olah menjadi pengalaman dirinya, dengan demikian pengalaman merupakan textbook kehidupan pelajar dewasa. Dengan mempelajari pengalamannya, seseorang akan merasa senang dalam menemukan makna dari suatu kejadian dimana ia terlibat di dalamnya. Pengalaman tersebut diperoleh dari hasil interaksi antara potensi yang dibawa sejak lahir (hereditas) dengan pendidikan dan lingkungan. Dalam proses pendidikan orang dewasa, orang yang belajar mempunyai pengalaman-pengalaman tentang apa yang diajarkan. Dalam proses pembelajaran ini, pengalaman adalah guru yang baik untuk saling dipertukarkan diantara warga belajar, untuk mendapatkan hasil belajar yang dapat diaplikasikan oleh seluruh warga belajar dalam situasinya sendiri-sendiri. Mengajar orang dewasa adalah membantu warga belajar untuk berinteraksi dengan sesamanya, pengajar bertindak sebagai fasilitator yang membantu terjadinya interaksi tersebut.

Guru versus Nara Sumber
Peran guru lebih banyak digunakan dalam pendidikan anak (pedagogi) yang berorientasi pada materi belajar (subject matter centered orientation), dan memandang bahwa pelajar merupakan suatu wadah yang perlu diisi dengan pengetahuan melalui cara transmisi. Dalam kondisi ini peran guru menjadi sangat dominan dan aktif dalam proses belajar, sedangkan pelajar merupakan pihak yang pasif dan menerima. Paulo Freire menyebut pendidikan ini sebagai banking system, dimana guru mentransfer materi belajar kepada muridnya dengan keyakinan bahwa materi tersebut akan berkembang dan bermanfaat bagi penerimanya. Implikasi dari peran guru tersebut dalam proses belajar adalah :
-            Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku;
-            penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran;
-            pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku;
-            adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan;
-            adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.
Peran guru terkait dengan asumsi bahwa pelajar adalah personal yang seragam, umum dan statis, sehingga guru melakukan pembelajaran terhadap pelajarnya dalam cara:
-            Otokratik;
-            menerapkan value yang sama bagi setiap murid.
-            mengajar dengan menggunakan metode ortodok (terbiasa) dan teratur;
-            mengajar materi yang telah ditentukan terlebih dahulu.;
-            mengajar dalam kelas dengan jumlah murid yang banyak;
-            mengharuskan murid untuk lulus dalam ujian yang sama bagi setiap orang;
Dalam pendidikan orang dewasa lebih tepat menggunakan peran nara sumber atau fasilitator yang bermakna sebagai pihak yang membantu dan memberikan kemudahan bagi pelajar dalam melakukan proses belajar. Peran ini dilandasi oleh asumsi bahwa setiap pelajar mempunyai kepribadian yang unik - tidak generalized, termasuk di dalamnya mempunyai kemampuan belajar yang berbeda. Dalam proses belajar orang dewasa, nara sumber perlu memperhatikan hal-hal berikut:
-            Tujuan belajar harus disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, minat dan harapan pelajar;
-            orang dewasa mempunyai kemampuan untuk mengubah kebiasaan buruk, dan tekun dalam belajar;
-            orang dewasa adalah orang yang mempunyai kemampuan intelegen, mempunyai kekuasaan, kebebasan, persahabatan, kreativitas, penghargaan, kesenangan, ekspresi diri;
-            orang dewasa menginginkan pengalamannya bermakna dan menggairahkan bagi dirinya dan orang lain;
-            orang dewasa ingin bakatnya berguna, ingin tahu tentang sesuatu yang baik dan menyenangkan, serta berbagi realisasi kepribadian dalam komunitas yang bersahabat.
Dalam pendidikan orang dewasa, nara sumber harus melakukan hal-hal berikut:
1.       Menciptakan iklim belajar yang kondusif
a.       Pengaturan lingkungan fisik
Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
-         Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa.
-         Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa.
-         Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial.
b.      Pengaturan lingkungan sosial dan psikologis
Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
-         Nara sumber lebih bersifat membantu dan mendukung.
-         Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan bina suasana dan berbagai permainan yang sesuai.
-         Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
-         Mengembangkan semangat kebersamaan.
-         Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama
2.     Diagnosis Kebutuhan Belajar
        Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
-     Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu.
-     Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan.
-     Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan
-     Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu
3.     Proses Perencanaan
Dalam perencanaan pendidikan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
-         Libatkan peserta untuk menyusun rencana pendidikan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain.
-         Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut kegiatan tersebut.
-         Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pendidikan.
-         Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.
4.     Memformulasikan Tujuan
        Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.
5.     Mengembangkan Model Umum
        Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pendidikan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
6.     Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran
        Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
-     Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan.
-     Materi belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis.
-     Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta
-     Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.
7.     Peranan Evaluasi
Pendekatan evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
-         Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran.
-         Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta belajar itu sendiri (self evaluation).
-         Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan.
-         Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
-         Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program.
-         Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.

Keterangan
- Tulisan ini merupakan terjemahan ringkas dari karya Lindeman, Eduard C. 1961. The Meaning of Adult Education. Montreal: Harvest House; dan saduran dari Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif; Pengantar Pendidikan Orang Dewasa, tersedia pada http://www.deliveri.org/guidelines/how/hm14/hm14_3i.htm

2 komentar:

  1. bagus banget artikelnya, moga bermanfaat!

    BalasHapus
  2. ditunggu artikel lainnya ya pak!

    BalasHapus