Sabtu, 02 Oktober 2010

Budidaya Mete

Budidaya Mete

1.  Menyiapkan Lahan
            Bibit mete sangat peka terhadap kompetisi gulma, tetapi di banyak daerah produsen, terutama pada lahan miring, semua vegetasi tidak boleh dimusnahkan sebelum penanaman, dan penyiangan bersih tidak dapat dilakukan selama fase tanaman muda karena bahaya erosi air dan angin (Sastrahidayat, 1990: 142).  Lahan yang digunakan untuk penanaman mente dapat berasal dari lahan alang-alang semak belukar, lahan primer atau lahan konversi.  Cara pembukaan pada lahan alang-alang dan semak belukar dilakukan dengan pembabatan secara manual atau menggunakan herbisida.  Lahan primer dilakukan dengan cara menebang pohon-pohon, sedangkan yang dari konversi dilakukan dengan menebang atau membersihkan tanaman yang ada.  
Daerah-daerah yang tidak terancam bahaya erosi, semua vegetasi pohon, semak dan perdu harus dibuang sebelum menanam bibit mete.  Penyiangan di bawah lingkaran tajuk lazim dipraktekkan, dan gulma-gulma yang habitatnya pendek dijaga terus sampai tanaman mete muda tumbuh baik.  Semua gulma dapat disiangi sebelum tanam, jika tanaman musiman ditanam bersama dengan mete (tumpang sari) (Sastrahidayat, 1990: 143).

2. Penanaman
2.1. Cara Tanam
Menurut Darwis (2004: 8) modal dasar bagi suatu usahatani adalah benih yang bermutu dan dapat mengacu ke arah bahan tanaman yang baik serta dapat dijadikan pohon induk, maka dalam penentuan benih harus mempertimbangkan: (1) tipe genjah dengan tajuk kompak dan diameter pendek yang berbentuk kerucut/piramidal atau silindris, percabangannya banyak dan kadar pembungaannya tinggi; (2) musim pembungaan dan pembuahan pendek, serta mempunyai bunga sempurna (hermaprodit) 20 persen ke atas; (3) pohon induk seyogyanya dipilih yang berumur sekitar 15 – 25 tahun dengan kemampuan berproduksi (gelondong mete) per meter persegi/bujur sangkar tajuk sekurang-kurangnya 80 gram (800 kg per ha); (4) pada setiap tandan buah terdapat > (4 – 5) buah yang berukuran 8 – 10 gram (kering jamur) atau 125 – 150 gelondong per kg dengan rendemen kacang 20 persen ke atas; (5) memiliki toleransi terhadap hama penyakit. Biji atau gelondong mete untuk benih sebaiknya diambil pada saat pertengahan panen (panen besar). Benih hanya mampu disimpan selama 8 bulan.
Penanaman benih secara langsung, dengan atau tanpa liang tanam, telah menjadi metode pokok untuk menanam skala kecil dan skala kebun-kebun besar.  Keuntungannya adalah: (1) tanaman dapat mengembangkan sistem perakarannya dan terutama akar utama secara alamiah; (2) cara ini sangat murah dan sederhana; dan (3) cara tanam yang paling cepat.  Kerugiannya adalah persentase perkecambahannya rendah, gangguan binatang sangat serius dan kecambah tidak dapat diseleksi (Sastrahidayat, 1990: 144).
            Bibit mete dapat disemaikan terlebih dahulu disamping penanaman langsung,.  Keuntungannya adalah: (1) semua bibit yang baik dapat dimanfaatkan; (2) dapat disemaikan dalam kantong plastik; (3) tanah persemaian dapat dipakai tanah yang subur sehingga pertumbuhan semai kuat dan tahan dalam pemindahan; (4) tidak mengalami kelayuan.  Kekurangannya yaitu: (1) kehilangan waktu satu tahun; (2) akar tunggangnya bengkok tidak wajar; (3) tidak dapat segera menyesuaikan diri dengan lingkungannya; (4) tanaman tidak tahan menghadapi musim kemarau setelah ditanam karena akar tunggangnya tidak sempurna; (5) memerlukan biaya tambahan (Rismunandar, 1986: 18).

2.2  Waktu Tanam
            Daerah tanpa irigasi, mete ditanam pada musim hujan.  Penanaman dapat dilakukan kalau hujan telah mulai turun secara teratur, dan tanah tidak mengering lagi. Penanaman awal akan memungkinkan bibit mengembangkan perakarannya lebih banyak sebelum datang musim kering.  Daerah yang iklimnya ditandai oleh curah hujan yang tidak teratur  dan musim hujan yang pendek, resiko kekeringan dapat dikurangi dengan merendam biji sebelum tanam, menanam biji secara dalam (5 – 10 cm) dan menutupinya dengan bahan mulsa untuk mengurangi penguapan (Sastrahidayat, 1990: 144).    
            Menurut Suryadi dan Zaubin (2000: 72) pada umumnya dua tahun pertama merupakan masa kritis bagi tanaman jambu mete.  Penanaman benih atau bibit langsung dalam lubang tanam berukuran (60 x 60 x 60) cm memberikan presentasi tumbuh dan toleransi yang lebih baik terhadap cekaman lingkungan.

 2.3.  Jarak Tanam
            Jarak tanam yang disarankan di berbagai negara bervariasi dari 8 m x 8 m hingga 16 m x 16 m bahkan 20 m x 20 m.  Jarak tanam yang sering digunakan dalam praktek adalah 10 m x 10 m dan 14 m x 14 m, sesuai dengan kondisi lokal dan ekspektasi perkembangan tanaman (Sastrahidayat, 1990: 154).  Menurut Rismunandar (1986: 18) jarak tanam mete dapat disesuaikan yaitu 5m x 5m pada tanah yang tandus, 10 m x 10 m pada tanah yang belum parah dilanda erosi, dan (12-15) m2 pada tanah yang subur.
            Menurut PUSLITBANG Perkebunan (2000: 71) Jarak tanam rapat (6 m x 6 m) kurang menguntungkan karena dalam waktu 4 hingga 5 tahun tajuk tanaman sudah bertemu, sehingga tidak ada ruang untuk menanam tanaman sela (inter crop). Jarak tanam yang ideal dapat disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman, dimulai dengan kerapatan tinggi yang kemudian secara bertahap dapat dikurangi.  Tajuk tanaman akan saling bersinggungan satu sama lain pada umur tertentu meskipun pada suatu populasi akhir yang telah ditentukan, kemudian pemangkasan akan meningkatkan biaya produksi (Sastrahidayat, 1990: 156).

3.  Pemeliharaan
3.1.  Pemangkasan
            Pemangkasan dengan tujuan untuk memperoleh hasil lebih tinggi, belum lazim dilakukan.  Pemangkasan, pada umumnya terbatas untuk membuang cabang terendah selama tahun pertama pertumbuhannya.  Pemangkasan hanya terbatas pada tinggi 60 cm jika praktek mekanisasi tidak ada.  Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemanenan dan operasi lain.  Pemangkasan cabang-cabang besar dapat mengakibatkan eksudasi getah yang berlebihan dan dapat menyebabkan kelemahan tanaman (Sastrahidayat, 1990: 161).
            Menurut Suryadi dan Zaubin (2000: 72) pemangkasan bentuk seharusnya mulai dilakukan mulai umur 6 bulan dan selanjutnya dilakukan dengan pemangkasan cabang-cabang ekstensif, non produktif dan bagian-bagian tanaman yang terserang hama dan penyakit.
            Pemangkasan harus dilakukan bertahap ke atas hingga tinggi 1 meter jika kultivasi dirancang untuk mekanisasi,  agar  traktor dan alat-alat lain dapat beroperasi selama beberap tahun pertama.  Pemangkasan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan tunas-tunas air dari bagian bawah batang.  Tunas-tunas baru tersebut harus dibuang secara teratur untuk menghindari perkembangan tajuk yang liar.  Tanaman yang telah tumbuh penuh diperlukan pemangkasan cabang atau ranting-ranting mati (Sastrahidayat, 1990: 162).
            Menurut Rismunandar (1986: 19) pemeliharaan mete dapat dilakukan dengan cara: mengusahakan agar cabang-cabang yang pertama tetap tumbuh sebagai penutup tanah, memeriksa semai yang mati, membiarkan tunas air tumbuh untuk membentuk mahkota pohon, agar menjadi rimbun.

3.2. Penyiangan Gulma
            Kebutuhan akan penyiangan gulma didasarkan pada kompetesi air dan cahaya.   Kompetisi cahaya, air dan unsur hara, menyebabkan perkembangan bagian tajuk tanaman sangat lambat sehingga perkembangan akar juga lambat.  Selama tiga tahun pertama pertumbuhannya, penyiangan selingkar tajuk harus dipraktekkan.  Gulma yang tumbuh di luar lingkaran penyiangan dapat dibiarkan tumbuh rendah dengan jalan memotong atau membajaknya.  Lingkaran penyiangan dapat dihentikan jika tanaman telah mengembangkan tajuknya beberapa meter, tetapi penyiangan di antara tanaman harus diintensifkan dan pencangkulan diperlukan sebagai pengganti penyabitan gulma (Sastrahidayat, 1990: 163).
            Menurut Suryadi dan Zaubin (2000: 72) penyiangan gulma terutama di bawah tajuk tanaman seringkali kurang diperhatikan.  Penyiangan perlu dilakukan, terutama pada tanaman muda agar perakaran jambu mete unggul dalam memanfaatkan hara dan air dalam tanah.
            Waktu penyiangan gulma sangat penting, penyabitan gulma pada musim kemarau tidak menguntungkan.  Gulma menggunakan banyak air tanah dan pertumbuhan baru sangat cepat setelah hujan pertama.  Penyiangan sebaiknya dilakukan sebelum akhir musim hujan.  Tanaman mete kemudian akan mendapatkan cukup air tanah guna perkembangan daun muda dan perkembangannya.  Penyabitan merupakan cara yang kurang memuaskan karena pengaruhnya hanya sebentar.  Pencangkulan yang memotong bagian gulma di bawah tanah jauh lebih efektif dan gulma masih memerlukan waktu yang lama untuk pulih kembali.  Pertumbuhan gulma dapat direduksi dan tanaman mete dapat tumbuh terus mendominasi vegetasi alamiah jika tanaman mete telah mampu mengembangkan tajuk yang sehat, dengan naungan yang cukup sehat.  Tanaman akan berkembang dengan lambat dan mungkin tidak pernah mencapai pertumbuhan yang subur kalau penyiangan kurang intensif.  Pengendalian kimiawi hingga saat ini masih belum penting.  Kemungkinan hal itu dapat menjadi alternatif penting, terutama kalau upah pekerja cukup mahal atau tenaga kerja sangat kurang (Sastrahidayat, 1990: 164-165).

4.  Pemupukan
            Suryadi dan Zaubin (2000: 72) menyatakan pemupukan dengan dosis dan komposisi hara NPK yang disesuaikan dengan umur tanaman berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan produksi jambu mete.
Sastrahidayat (1990: 177-179) mengemukakan bahwa praktek pemupukan yang banyak dilakukan adalah menggemburkan tanah di seputar batang dengan garpu hingga kedalaman 20 cm, dengan radius setengah tajuk.  Pupuk kemudian disebar dan dicampur dengan tanah.  Tanaman yang dipupuk sekali dalam liang tanam, yang diikuti oleh pemberian pupuk disebar pada tahun kedua berkembang lebih baik daripada tanaman yang dipupuk sekaligus pada liang tanam.  Hasil tanaman yang dipupuk secara bertahap tiap tahun juga lebih tinggi daripada tanaman yang dipupuk sekali dengan dosis tinggi pada liang tanamnya. 

5.          Pengendalian Hama dan Penyakit
51. Hama
Menurut PUSLITBANG Perkebunan (2000: 72) beberapa hama yang sering dijumpai di kebun petani yakni Helopeltis sp., Cricula sp., Acrocercrops sp., Ttrips sp., dan Lawana sp.  Hama Helopeltis sp. Paling besar menimbulkan kerusakan di kawasan timur Indonesia . 
Sastrahidayat (1990: 190-221) mengungkapkan bahwa beberapa jenis serangga menjadi hama utama tanaman mete,  diantaranya menyebabkan kerusakan serius.  Hama pada tanaman mete dibagi dalam 5 kelompok besar yaitu:
(1) hama penggerek, (2) hama pengerat, (3) hama pemakan buah dan bunga, (4) hama pengisap daun dan tunas muda, (5) binatang besar.
            Menurut Suryadi dan Zaubin (2000: 72) beberapa hama yang sering dijumpai di kebun petani adalah Helopeltis sp., Cricula sp., Trips sp., dan    Lawana sp.  Hama Helopeltis tampaknya paling besar menimbulkan kerusakan di kawasan timur Indonesia.    
            Pengendalian yang umum dilakukan adalah dengan cara fisik, mekanik, dan kimiawi. Pengendalian dilakukan dengan cara memotong bagian tanaman yang terserang atau dengan menyemprotkan insektisida. Kontrol kimia yang efektif dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai insektisida. Pengendalian dengan insektisida disarankan sebagai alternatif terakhir, yaitu  penyemprotan interval pendek selama periode 60 sampai 90 hari. Perlindungan bibit dengan anyaman kawat yang rapat sangat efektif, tetapi sangat mahal (Sastrahidayat, 1990: 192-221).

5.2. Penyakit
Penyakit yang umum dijumpai pada tanaman mete adalah (1) penyakit pada kecambah bibit, (2) penyakit tunas muda dan bunga, (3) penyakit buah dan biji. Pengendalian penyakit yang efektif dicapai dengan menggunakan fungisida.  Penyemprotan dilakukan pada saat munculnya daun baru dan pembungaan, karena lembab nisbi yang tinggi dan pertumbuhan baru sangat ideal bagi perkembangan dan penyebaran patogen. Penyemprotan yang cepat dapat menghambat perkembangan penyakit (Sastrahidayat, 1990: 181-189).
Penyakit tanaman yang sering menyerang tanaman mete adalah penyakit layu tanaman, penyakit layu daun, dan penyakit rontok bunga atau buah busuk. Fungisida yang umum digunakan untuk pengendalian penyakit antara lain Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolatan 4F dan Cuporxy Chloride.

6.      Panen
Pemanenan umumnya terdiri atas  pemungutan biji-biji yang telah gugur ke tanah setelah masak.  Buah harus dipanen sebelum jatuh secara alamiah, jika buah akan dimanfaatkan (Sastrahidayat, 1990: 222-223).  Buah mete sebaiknya dipanen pada kondisi masak penuh untuk mendapatkan biji mete yang berkualitas baik.  Kondisi tersebut ditandai dengan jatuhnya buah. Buah semu kemudian dipisahkan dari biji metenya, selanjutnya biji mete gelondongan dikeringkan dengan sinar matahari sampai kadar ari mencapai 12 - 8%.

6.1.  Pengambilan biji

Permukaan tanah di bawah tajuk tanaman harus dibersihkan dari gulma untuk memudahkan pengumpulan biji.  Seluruh area di bawah tajuk tanaman disapu bersih dari daun-daun kering pada beberapa daerah.  Panen merupakan kerja yang butuh waktu, tetapi tidak perlu banyak tenaga, hal ini menunjukkan bahwa wanita dan anak-anak dapat dilibatkan.
Cara panen yang lazim dilakukan di berbagai sentra jambu mete di dunia ada dua macam, yaitu: (a) cara lelesan, dilakukan dengan membiarkan buah jambu mete yang telah tua tetap di pohon dan jatuh sendiri atau para petani menggoyang-goyangkan pohon agar buah yang tua berjatuhan. (b) cara selektif, dilakukan secara selektif (buah langsung dipilih dan dipetik dari pohon). Pemanenan dapat dibantu dengan galah dan tangga berkaki tiga apabila buah tidak memungkinkan dipetik secara langsung.

6.2.Pemilihan buah
Buah yang lebih masak biasanya lebih manis, oleh karena itu dianjurkan untuk memetik buah pada saat hampir jatuh atau gugur.  Buah mente menjadi masak sesudah berumur 60-70 hari sejak munculnya bunga sebaiknya buah mete dipanen pada kondisi masak penuh.

7. Pascapanen
            Kegiatan pascapanen mete mencakup penanganan biji setelah panen untuk menurunkan kadar air.  Kadar air biji mete yang dipanen dapat mencapai 25%, tergantung kondisi iklim, kelembaban tanah tempat jatuhnya buah, kerapatan pertumbuhan gulma di bawah tanaman, dan waktu antara jatuhnya buah dan pemanenan.  Kadar air tinggi dapat menyebabkan kerusakan keping biji karena serangan jamur atau bakteri, atau aksi enzim. Biji yang terserang dapat kehilangan rasa dan aromanya yang khas, yang akan mengakibatkan penurunan kualitas.  Oleh karena itu frekuensi panen perlu tinggi dengan selang pendek terutama pada kondisi lembab nisbi udara tinggi atau ada hujan selama musim panen.
            Pengeringan biji segera setelah panen sangat penting untuk mengawetkan kualitasnya.  Pengeringan di bawah cahaya matahari dapat dilakukan pada lantai jemur khusus.  Anyaman bambu atau daun kelapa atau bahan lain dapat digunakan untuk menjemur jika lantai jemur tidak ada, terutama kalau setiap kali panen hanya melibatkan sedikit biji (Sastrahidayat, 1990:  225-227).

7.1.    Pengambilan Kacang Mete
Menurut Bank Indonesia (2005: 4) pengupasan kulit biji mete dapat dilakukan secara mekanis atau manual. Pengupasan kulit biji mete gelondong secara manual dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:  (1) pengupasan kulit mete dengan pemukul, (2) pengupasan kulit mete dengan kacip belah, dan (3) pengupasan kulit mete dengan kacip ceklok.

7.2.    Pengeringan Kacang Mete
Kacang mete yang telah dipisahkan dari kulitnya dikeringkan lagi hingga kadar air mencapai sekitar 3% dari sebelumnya 5%. Pengeringan kacang mete ini bertujuan untuk memudahkan pengelupasan kulit ari kacang mete. Pengeringan kacang mete di samping itu, dapat mencegah serangan hama dan jamur serta meningkatkan daya simpan. Pengeringan kacang mete dilakukan dengan cara (1) penjemuran di bawah sinar matahari (2) oven, dilakukan bila cuaca tidak memungkinkan misalnya pada musim hujan, dan (3) cara sangrai yaitu dengan memanaskan kacang mete di atas nampan yang diberi lapisan pasir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar